}
Jazz Gunung Rayakan Keragaman di Bromo
Musik

Jazz Gunung Rayakan Keragaman di Bromo

by Yogira
Wed, 04-Jul-2018

Sepuluh tahun sudah usia pagelaran Jazz Gunung. Festival jazz internasional dengan cirikhas atmosfir pegunungan ini kembali ‘mengalun’ di panggung amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo [27 - 29 Juli 2018].

Dengan mengusung pesan keragaman, Jazz Gunung Bromo menampilkan lineup lintas generasi sekaligus lintas genre, dan bangsa. Tidak hanya musisi dari Indonesia, tetapi juga dari Belanda dan Prancis.

Pada hari pembuka, [Jumat, 27 Juli 2018] para penampil Jazz Gunung adalah: Kramat Ensemble Percussion, Tohpati Bertiga, Tropical Transit, Barry Likumahuwa, serta Andre Hehanussa. Pada hari kedua [Sabtu, 28 Juli 2018], yang bakal tampil, yakni: Ring of Fire Project besutan Djaduk Ferianto, Surabaya All Stars: Tribute to Bubi Chen, Bintang Indrianto – Soul of Bromo dan Barasuara.

Selanjutnya pada hari ketiga [Minggu, 29 Juli 2018] Jazz gunung mengemas pertunjukan secara unik dengan konsep manggung menyambut matahari terbit. Mulai pukul 05.00, penonton akan dibangunkan dari tidurnya untuk menikmati musik pagi sambil menyeruput kopi pagi khas Bromo. Para penampilnya adalah: Endah N Rhesa, Bianglala Voices, trio pop vintage NonaRia hingga kelompok musik apik Bonita & the Hus Band. Tak ketinggalan, Jungle by Night, grup Afrobeat asal Amsterdam, Belanda rencananya akan menghidangkan musik afrobeat jazz funk. Menarik juga untuk dinanti, grup Insula, trio musik kontemporer asal Prancis. Band ini akan meracik musik jazz kontemporer bergaya  Al-Jazeera dengan musik kebudayaan Martinik.

“Nggak usah lagi musisi harus go internasional. Toh, musik kita sudah milik dunia. Dengan Jazz Gunung, kita bagian dari dunia. Di Indonesia paling banyak konser jazz. Ada spirit yang di Indonesia. Musisi luar ingin berkolaborasi dengan musisi Indonesia, terutama yang berangkat dari tradisi nusantara,” jelas Djaduk Ferianto, salah satu insiator Jazz Gunung, dalam konferensi pers, di kawasan Kemang, Jakarta, belum lama ini Inisiator Jazz Gunung lainnya, Sigit Pramono menambahkan, persiapan Jazz Gunung ini sudah matang. Seperti tahun sebelumnya, tata panggung tetap mengedepankan instalasi dan desain dengan bahan baku bambu. Bahkan desain bambu di panggung utama tanpa dipasang iklan atau sponsor.

“Sedangkan untuk tata suara, kami menggunakan produk dalam negeri. Sound system-nya dari Yogyakarta. Tata suara selalu berproses, disesuaikan dengan lokasi panggung dan musisi,” kata Sigit.

Pada tahun ini, Jazz Gunung menganugerahkan penghargaan kepada Bubi Chen. Maestro pianis jazz legendaris asal Surabaya ini memang layak mendapatkannya karena kiprah dan perjuangannya membantu melestarikan generasi jazz di Indonesia semasa hidupnya. Sebelumnya, pada Jazz Gunung pun memberikan penghargaan kepada Mendiang Ireng Maulana pada 2016 dan mendiang Jack Lesmana pada 2017.

Penghargaan yang sudah dilakukan sejak dua tahun lalu ini sebelumnya dianugerahkan kepada mendiang Ireng Maulana pada 2016 dan mendiang Jack Lesmana pada 2017.

Nah, kamu penyuka musik sambil menikmati alam indah Bromo, datang saja ke acara Jazz Gunung. Acara bertaraf internasional ini dijamin akan menjadi momen indah tak terlupakan. Harga tiketnya mulai 425 ribu hingga 1,1 juta.  

Untuk informasi lebih lanjut mengenai harga tiket berikut paket akomodasi dan transportasi, silakan menyambangi laman resmi jazzgunung.com.

Media Sosial:
Facebook Jazz Gunung
Instagram @jazzgunung
Twitter @jazzgunung

[][teks yogirudiat/jazz gunung | foto @yogi rudiat, jazz gunung]