}
Mery Kasiman: Jazz Sebagai Ruang Bereksplorasi dan Berkreasi
Musik

Mery Kasiman: Jazz Sebagai Ruang Bereksplorasi dan Berkreasi

by Intern 2
Mon, 16-Jul-2018

Pianis Indonesia Mery Kasiman tampil di konser musik “Alur Bungelaryi” yang diadakan di GoetheHaus Institut Jakarta, Rabu [11/7].

Konser musik “Alur Bunyi” kali ini bereksperimen memadukan instrumen klasik dengan elektronik dan menampilkan visual langsung oleh dua seniman dari VJ kolektif yang berasal dari Berlin, Jerman, yaitu "Pfadfinderei" serta dikuratori Gerald Situmorang [gitaris Indonesia sekaligus bass Barasuara].

Mery Kasiman memulai karier musiknya pada tahun 2005 dengan master class-nya bersama pianis jazz asal Amerika, Hank Jones dan drummer asal Meksiko, Antonio Sanches di New York.

"Aku terjun ke dunia musik secara formal tahun 2005. Manggung sambil kuliah musik dan belajar piano itu dari kecil. Tapi keluargaku nggak ada yang main musik sama sekali. Seni juga nggak ada. Jadi saya ini agak pembangkang sebenernya sih kalau dari keluarga," kata Mery Kasiman saat diwawancarai usai tampil di konser musik “Alur Bunyi”.

Kembali ke Indonesia, wanita yang mulai belajar piano sejak usia 7 tahun ini kemudian mendaftar di Institut Musik Daya Indonesia. Di sana, ia dibimbing teman dan rekan musisinya, Aksan Sjuman [pemusik sekaligus aktor Indonesia].

Setelah menyelesaikan program master class-nya dia bekerja sebagai pianis dan keyboardist untuk proyek musik yang berbeda dan menjadi bagian aktif dari "Aksan Sjuman dan Committee of The Fest" pada tahun 2010.

Mery merupakan anggota band POTRET [Melly Goeslaw, Anto Hoed, Aksan Sjuman, dan Nikita Dompas] dan telah bergabung dengan Sjuman School of Music sebagai direktur akademik.

"Aku mulai belajar musik itu dari musik klasik, terus SMP dan SMA mulai jazz, dan sekarang lebih main ke jazz," ujar Mery.

Ia juga mengatakan bahwa ia justru lebih memilih jazz karena menurutnya lebih sesuai dengan kepribadiannya.

"Aku sih sebenernya lebih milih jazz ya, karena jazz itu kan banyak ruang untuk bereksplorisasi, improvisasi, punya banyak ruang, bisa pakai berbagai macam alat atau pun bisa memilih lebih banyak bunyi yang bervariasi dan sesuka hati. Beda dengan musik klasik yang lebih kaku karena ada pakem-nya," jelas Mery.

Selain itu, ia juga berbagi tips untuk memulai bermain jazz untuk pemula.

"Pertama kali kalau mau belajar jazz itu harus belajar teknik bermain instrumennya, setelah menguasai teknik sudah baik, kemudian bisa bereksplorasi. Karena jazz itu kompleks sekali, mulai dari chord-nya, harmoninya, sampai ke improvisasi itu memang cukup kompleks. Jadi, kalau masih ada kendala di teknis itu susah banget nanti untuk belajar jazz," tambah Mery.

Ia juga mengatakan tidak pernah bosan selama berpuluh tahun bermain musik Jazz, karena bagi dirinya musik jazz adalah hiburan.

"Jazz tuh kayak media saya untuk berekspresi dan berkreasi buat saya dan sesuatu yang membuat saya senang," imbuh Mery.

Pada Mei 2018 GoetheHaus Institut, Jakarta mengundang Mery Kasiman [piano sekaligus vocal] beserta Julian Marantika [Modular Synths], Indra Perkasa [Modular Synths], Karel William [Drums], Ranya Badudu [Vocal], dan Windy Setiadi [Accordeon].

Mery juga mengatakan bahwa kesulitan yang sebenarnya untuk melaksanakan konser musik ini adalah jadwal untuk latihan, karena kesibukan dari tiap anggota yang padat.

Mery juga menceritakan bagaimana proses alunan musik hasil eksperimen perpaduan instrument musik dan elektronik yang disajikan pada konser tersebut, yaitu dimulai pada bulan Mei saat melakukan workshop satu kali, lalu ia bawa pulang ke rumah materinya, kemudian ia bikin partiturnya.

Konser musik “Alur Bunyi” pada Rabu, [11/7] tersebut ternyata tiap anggota dari pemain musik yang tampil mulai melakukan latihannya pada 9 Juli 2018 atau hanya sekitar dua hari.

"Iya kami mulai latihan 9 Juli kemarin. Karena kan saya memang udah siapkan pada workshop Mei lalu. Terus emang udah ada beberapa lagunya yang udah jadi juga, jadi tinggal di-arrange sesuai dengan format ini dan tinggal eksekusi," jelas Mery.

Ia juga mengatakan bahwa penampilannya pada konser tersebut bukan kolaborasi pertamanya dengan Indra Perkasa dan Karel William.

"Kalau sama Indra dan Karel saya sering tampil bareng. Terakhir itu kemarin manggung bareng di Java Jazz dan bikin beberapa rekaman juga sama mereka. Kalo sama Ranya dan Windy baru kali ini," kata Mery.

Mery mengharapkan pengunjung yang hadir di konser musik “Alur Bunyi”, Rabu [11/7], dapat menghibur dan menjadi terinspirasi untuk terus berkarya di mana pun dan apapun bidangnya.

Setelah berkolaborasi dengan Atas Music pada proyek "Live with Heart" tahun 2017, ia akhirnya meluncurkan debut single "Fallin Apart" pada tahun 2018 dan diproduseri Petra Sihombing.

Lagu tersebut menjadi lagu penutup dari konser musik “Alur Bunyi”. Lagu ini tentang suatu kejadian yang membuat ia merasa sangat sedih dan tentang seseorang yang memang sedang sedih dan terkungkung, lalu ia ingin meng-capture momen itu dalam bentuk lagu. [][teks @yolabonnita | foto @yolabonnita, jazzaulabarat.org]