}
Benedict Anderson: Ilmuwan Amerika Pencinta Indonesia
News

Benedict Anderson: Ilmuwan Amerika Pencinta Indonesia

by Yogira
Tue, 15-Dec-2015

Ada beberapa ilmuwan dan cendikiawan warga negara asing [WNA], yang sangat  mencintai Indonesia, bahkan akhirnya jadi WNI. Salah satunya Benedict Anderson.

Sejak dulu keilmuan seputar Indonesia mendapat selalu mendapat perhatian publik dunia. Mereka mengkaji berbagai bidang sesuai minat dan latarbelakang pendidikannya. Sekedar menyebut beberapa nama:  A. Teeuw, Katrin Bandel, Berthold Damshäuser [pengkaji kesusastraan Indonesia], Dieter Mack [pengkaji musik gamelan], Franz Magnis Suseno [pengkaji filsafat dan budaya Indonesia], dan Benedict Anderson [pengkaji sejarah dan budaya Indonesia]. Menariknya, Saking terlanjur mencintai Indonesia, di antara mereka akhirnya mengukuhkan diri sebagai Warga Negara Indonesia [WNI]. Sebutan “Indonesianis” pun melekat pada dirinya.

Baru-baru ini, Indonesia kehilangan salah satu indonesianis. Ya, Benedict Richard O'Gorman Anderson, meninggal di Batu, Malang, Sabtu malam [12/12]. Ilmuwan asal Amerika yang lebih dikenal dengan nama Ben Anderson ini wafat pada usia 79.

Ben adalah professor emeritus bidang studi internasional Universitas Cornell, Amerika. Sebelum meninggal, Ben sempat memberi kuliah umum tentang Anarkisme dan Sosialisme di Universitas Indonesia. Dia juga tengah menyiapkan bedah buku terbarunya bertajuk Di Bawah Tiga Bendera.

Ilmuwan kelahiran Kunming, China, 26 Agustus 1936 ini menerbitkan banyak karya tulis, baik dalam bentuk buku, jurnal, maupun artikel, antara lain:  Imagined Communities, Debating World Literature, Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia, dan Java in a Time of Revolution. Banyak karyanya yang menjadi rujukan studi mahasiswa dan akademisi. Bahkan Imagines Communities jadi salah satu  karyanya yang paling monumental.

Penjelajahan intelektual Ben di Indonesia menularkan kajian-kajian kritis, yang sempat ‘memanaskan’ kuping rezim Orde Baru lantaran pandangan dan analisinya berbau “kekiri-kirian”. Imbasnya, dia dilarang masuk Indonesia. Setelah Soeharto lengser, Ben kembali ke Indonesia untuk berkutat dengan keilmuannya.

Selama tinggal di Indonesia, Ben kerapkali berkunjung ke berbagai daerah untuk menjalani penelitian. Dari hasil beberapa kali kunjungan itulah, dia semakin suntuk mendalami Indonesia, terutama dari aspek sosial dan budaya. Salah satu yang menjadi cirikhas Ben dalam menulis adalah, ia acap menggunakan Bahasa Indonesia ejaan lama dalam beberapa tulisannya.    

Selamat tinggal Om Ben. Sumbangsihmu untuk Indonesia semoga terus berharga.

[][teks @firza/berbagai sumber | foto chaiwanbenpost.blogspot.com, niallodoc.wordpress.com]