}
Tahun 2016, Indonesia 'Dihajar' La Nina?
News

Tahun 2016, Indonesia 'Dihajar' La Nina?

by Pandu
Wed, 23-Dec-2015

Tahun 2015, tercatat Indonesia mengalami musim kemarau panjang akibat pengaruh fenomena El Nino. Suhu perairan Samudera Pasifik menjadi naik, sehingga pertumbuhan awan hujan di wilayah Barat Indonesia terhambat. Alhasil, kawasan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan mengalami kekeringan hebat.

Kekeringan itu berimbas pada kebakaran hutan dan lahan gambut yang mencapai 13.000 titik api dengan kerugian yang mencapai Rp 221 triliun --dua kali lipat dari bencana Tsunami Aceh 2004. Selama 65 tahun terakhir, BNPB mencatat bahwa fenomena El Nino tahun ini adalah yang terburuk.

Tahun 2016, El Nino dipastikan tidak lagi mendatangi Khatulistiwa. Tapi, menurut prediksi, saudara kandungnya, La Nina yang akan giliran menetap di Indonesia dan sekitarnya selama setahun. Hal ini akan berimbas pada curah hujan yang tinggi hingga pertengahan tahun.

La Nina merupakan fenomena penurunan suhu muka laut di kawasan Samudera Pasifik Timur. Sementara angin Pasat Timur makin menguat. Massa air hangat yang terbawa semakin banyak ke arah Barat. Akibatnya, massa air dingin di Pasifik Timur bergerak ke atas dan menggantikan massa air hangat yang berpindah tersebut [upwelling].

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memperkirakan, fenomena La Nina akan menguat pada pertengahan 2016.

“La Nina yang melanda dapat berpotensi menyebabkan bencana banjir, longsor dan puting beliung akan semakin meningkat,” ucapnya.

Menurutnya ada 315 kabupaten/kota yang berada di daerah bahaya banjir. Ditambah 274 kabupaten/kota yang terancam bahaya longsor. Dari jumlah itu, BNPB mengaku hanya punya 50 unit sistem peringatan dini untuk mengantisipasi longsor. Sementara sungai-sungai juga banyak yang belum memiliki tanggul sehingga air mudah meluap. [][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto nasa.gov]