}
David Bowie: Wafatnya Sang Revolusioner
News

David Bowie: Wafatnya Sang Revolusioner

by Pandu
Mon, 11-Jan-2016

Dua hari setelah merayakan ulangtahun ke-69, David Bowie justru menghembuskan nafas terakhir. Ia menyerah akibat kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya itu.

Bowie telah terdiagnosis mengidap kanker sejak 18 bulan lalu. Postingan akun resmi David Bowie di Facebook, menyebut, "David Bowie telah beristirahat dengan tenang setelah berjuang melawan kanker 18 bulan."

Dalam tenggat waktu antara hidup dan mati itu, David Bowie masih mampu merekam album ke-25, Blackstar. Berisi tujuh trek lagu baru, plus satu bonus trek yang berbentuk video. Ini juga menjadi album kedua Bowie setelah sempat vakum studio rekaman sejak 2003-2013. Meski ringkas, David Bowie mendapat sambutan luar biasa dari kritikus dan media internasional.

NME, The New York Times, Rolling Stone, The Independent, dan AllMusic memberi karya terakhir ini dengan bintang 4. “Dalam waktu yang bersamaan [album ini] emosional dan penuh teka-teki, tersusun dan spontan. Di atas semua itu, Bowie sengaja menolak memenuhi ekspekstasi para fans dan stasiun radio. “ – The New York Times.

Selama berkarier 54 tahun di industri musik, David Bowie adalah seorang revolusioner musik popular. Mendekorasi ulang struktur musik Pop yang telah solid dibentuk oleh The Beatles dan Elvis Presley. Bahkan mendefinisi ulang bagaimana citra seorang Pop Star. Bukan idola yang suci dan tak berdosa. Pop Star ialah dia yang eksentrik!

Mengganti nama berulang kali sebagai bentuk legitimasi dari alter ego yang tak berkesudahan. Dan di atas kehidupan yang glamor, Bowie berani berteriak jujur bahwa ia adalah bisexual. Kegilaan lelaki androgini merevolusi industri musik dengan make up petir itu menginfluensi genre pop sekaligus rock.

Bowie sempat berjuang agar bisa terus relevan di industri musik dalam dekade '90-2000. Tapi tahtanya harus lengser, karena pasar lebih memilih pria androgini dengan perilaku badass. Ditambah genre Drum n' Bass lebih asik untuk mengawang. Bowie lalu minggir untuk hiatus dan operasi pelebaran arteri [angioplasty] yang mendadak karena penyumbatan darah.

Lalu sebelum meninggal, lewat album Blackstar, ia merekonstruksi ulang lagi bagaimana seorang idola harus selalu berkarya keluar dari pakem dan lebih liar daripada ekspektasi.

“Aku tak tahu akan ke mana setelah ini. Tapi aku berjanji, itu tidak akan membosankan,” – David Bowie

[][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto vam.ac.uk]