}
Java Jazz 2016: Hari Pembuka Penuh Warna
News

Java Jazz 2016: Hari Pembuka Penuh Warna

by Yogira
Sat, 05-Mar-2016

Jazz nggak cuma musik, tapi jadi gaya hidup. Kembali Java Production membuktikannya pada perhelatan Java Jazz Festival 2016.

Penyuka  musik [yang pastinya tak semuanya penggemar jazz] berbondong-bondong ke acara Java Jazz Festival pada hari pertama di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat [04/03]. Banyak orang yang sepulang kantor menikmati hiburan  pada acara jazz tahunan ini.

Ketika venue mulai dibuka, ada sebagian penonton yang sedikit was-was plus takut di pintu masuk karena ada pemeriksaan dengan menggunakan anjing pelacak. Untung saja, itu tak menimbulkan situasi menghebohkan. Tapi cara ini bagus untuk mengantisipasi kejadian tak diinginkan. Maklum, belakangan, Indonesia dianggap tak aman untuk acara konser. Namun, sebelumnya, pihak panitia menjamin acara Java Jazz 2016 aman dan terkendali.

Benar saja, pada hari pembuka perhelatan jazz legendaris di Indonesia ini, semua penonton merasa enjoy dengan suguhan musik penuh warna. Nggak cuma musik jazz, tapi berbagai musik lainnya pun menjadi suguhan menarik dan bisa dipilih penonton berbagai usia dengan aneka selera.

Sekitar pukul 4 sore hingga dini hari, beberapa line up tampil di masing-masing stage yang sudah ditetapkan.  Menjelang malam, Hivi dan Raisa menjadi primadona. Terutama Raisa di panggung BNI Hall, penyanyi cantik ini membetot perhatian penonton. Dia menyanyikan lagu-lagu soundtrack, semisal “When You Say Nothing at All”, “Suara Hati Seorang Kekasih”, dan tentu saja lagu soundtrack untuk film perdananya, Terjebak Nostalgia. Lagu-lagu soundtrack yang dinyanyikan Raisa memang terbilang populer. Tak heran, banyak penonton bisa sing a long di depan panggung.

Malam kian merambat, penonton kian meruyak di berbagai sudut venue. Musisi-musisi luar mulai unjuk gigi, misalnya: Michelle Walker,  penyanyi jazz kelahiran Jerman, yang kini bermukim di New York, Amerika. Suaranya yang khas serak-serak basah meneduhkan panggung Bravo Radio Hall seperti dalam suasana jazz lounge. Sementara di Finspi Hall, gitaris Tohpati membawa proyek musik Ethnomission. "Kultur Nusantara" menjadi pengucapan utama musikalitasnya dengan mengurangi distorsi gitar.

Di panggung lainnya, Naif dan Robin Thicke pun mendapat sambutan bagus dari para penonton. Naif yang berlaga di panggung  Java Jazz Hall membuat penonton senyum hingga tertawa terpingkal-pingkal. Maklum, gaya kocak David sebagai vokalis sangat komunikatif dan interaktif dengan penonton. Celotehannya pada saat jeda membuat tontonan jadi nggak merasa bosan. Malam itu Naif membawakan lagu andalan, di antaranya, “Televisi”, “Aku Benci untuk Mencinta”, “Posesif”, “Curi-curi Pandang”, dan “Mobil Balap”. Demikian pula Robin Thicke di panggung  BNI Hall mempesona dengan lagu hitsnya, semisal: “Get Her Back”, “Lost Without You”, dan “The Sweetest Love”.

Malam kian larut. Tapi penonton masih betah menyambangi setiap hall dan panggung terbuka Java Jazz Festival 2016. Yang paling ditunggu sebagian penonton berusia 30-50 tahunan adalah Level 42, yang manggung di Java Jazz Hall, mulai pukul 22.00. Sontak, semua penggemar band asal Inggris ini berebutan kursi paling depan dan akhirnya semua kursi nyaris terisi. Malam itu, Level 42 membawakan sejumlah lagu hits, misalnya, “Running in The Family”, “Something About You”, “Lesson in Love”, “Love Games”, dan “Chinese Way”.

Seperempat jam menjelang tuntas pertunjukkan Level 42, di panggung BNI Hall  sudah mulai konser yang menarik lainnya, yakni Glenn Fredly. Penonton pun tumplek ke panggung ini. Gleen menyambutnya dengan lagu-lagu hits, antara lain: “Kasih Putih”, “Januari”, dan “Malaikat Juga Tahu”.

Sebagai penutup hari pertama Java Jazz Festival 2016, pendengar setia lagu-lagu Float langsung menyerbu panggung Mildspot Hall. Float yang berkolaborasi dengan Riza Arshad tampil tenang, terkadang sedikit meledak-ledak. Dengan konsep minimalis, band ini mengombang-ambing perasaan penonton dengan beberapa lagu, antara lain: “Sementara, “Pulang”, dan “Tiga Hari untuk “Selamanya.”

Malam Sabtu pun terlewati oleh dini hari. Penonton setia Java Jazz, pasti mengumpulkan energi lagi agar bisa menonton pada dua hari berikutnya. Mampukah Sting dan David Foster memanjakan penggemarnya pada hari kedua dan ketiga? Kita tunggu saja. [][teks @firza | foto @firza @saesheera]