}
J.S. Badudu, Pahlawan di Bidang Bahasa
News

J.S. Badudu, Pahlawan di Bidang Bahasa

by Yogira
Mon, 14-Mar-2016

Gelar pahlawan tak melulu harus disematkan kepada orang yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Pahlawan pun layak disematkan kepada orang yang terus gigih memperjuangkan kelestarian bahasa sebagai bagian kebudayaan negerinya.

Jusuf Sjarif Badudu atau lebih dikenal dengan J.S. Badudu layak juga disebut pahlawan. Pasalnya, lebih dari setengah abad dia mempersembahkan ilmu dan karyanya untuk pengembangan Bahasa Indonesia.

J.S. Badudu wafat di Bandung, 12 Maret 2016. Sampai mengembuskan nafas terakhirnya pada usia 89 tahun, dia masih ditetapkan sebagai guru besar linguistik di beberapa perguruan tinggi, yakni pada Program Pascasarjana Univesitas Padjadjaran Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia [UPI], Bandung, Universitas Pakuan Bogor, dan Universitas Nasional, Jakarta.

Semasa hidupnya, selain sebagai dosen dan guru besar, J.S. Badudu seringkali menatar dan memberikan makalah kepada guru-guru Bahasa Indonesia di beberapa provinsi, juga menjadi narasumber berbagai seminar dan lokakarya bahasa. Yang paling populer, J.S. Badudu dikenal sebagai pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI [1974-1979].

Sebagai pakar bahasa, tokoh kelahiran Gorontalo, 19 Maret 1926 ini menerbitkan banyak karya tulis dan sering menjadi referensi mata pelajaran/mata kuliah di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Buku-buku yang ditulisnya, antara lain: Membina Bahasa Indonesia Baku, Ejaan Bahasa Indonesia, Sari Kesusastraan Indonesia untuk SMA, Buku dan Pengarang, dan Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. J.S. Badudu pun dikenal sebagai penyusun beberapa kamus, seperti: Kamus Umum Bahasa Indonesia, Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia, dan Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia.

J.S. Badudu pernah mengenyam pendidikan ilmu lingustik di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda [1971-1973].  Dia pun pernah mendapatkan bintang jasa, Satyalencana 25 tahun Pengabdian dan Bintang Mahaputra pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri,di Istana Negara, 15 Agustus 2001.

Kini semua kiprah dan karyanya di bidang bahasa menjadi warisan bagi orang-orang yang ditinggalkannya. J.S. Badudu pun mendapatkan kehormatan saat dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Minggu [13/03]. Banyak tokoh yang menghadiri pemakamannya, antara lain: Walikota Bandung Ridwan Kamil, Rektor Univesitas Padjadjaran Tri Hanggono Achmad, dan sejumlah tokoh masyarakat.

J.S Badudu yang wafat karena diduga terserang stroke meninggalkan 9 anak, 9 menantu, 23 cucu, dan 2 cicit. Pada 16 Januari 2016, istrinya,  Eva Henriette Alma Koroh meninggal dunia terlebih dahulu pada usia 85 tahun.
[][teks @firza/berbagai sumber  | foto youtube/Sule Fans Channel. youtube/you find, Alfinesia/twitter]