K666 Metalfest ke-57 Bersama Gorgoroth
News

K666 Metalfest ke-57 Bersama Gorgoroth

by Pohan
Tue, 12-May-2015

Penggemar musik metal terpuaskan dengan event "K666 Metalfest: Helaan Metal Melawan Kapitalis Bir, Iklan Rokok dan Parpol" yang ke-57 di Stadion Pajajaran, Bogor [9 & 10 Mei 2015].

Pada hari pertama, acara bertajuk Brutalize in the Darkness, menampilkan 17 band lokal secara gratis. Lantas saat puncak acara [hari kedua], penonton dikenakan tiket masuk seharga IDR 25K, dengan memanggungkan band utama, Gorgoroth. Para pedagang merchandise senang tidak dikenakan biaya sewa lapak.

Sederet band lokal maupun internasional lain yang ikut memeriahkan hari kedua adalah Kedjawen, Disavowed, Jasad, Wardaemonic, Dajjal, Eternal Rest, dan Gugat. 

Jadwal band molor hingga tiga jam membuat energi metalhead terkuras akibat lama menanti-nanti pentas yang belum digelar. Ada juga insiden dengan matinya genset. Imbasnya, band brewtal death metal asal Bandung, Jasad yang semula dijadwalkan manggung pukul 16.15 WIB baru naik ke atas pentas sekitar pukul 19.15 WIB setelah penampilan Dajjal dan Wardaemonic.

Meski begitu, penampilan Man dkk tetap maksimal. Mereka sempat membawakan lagu baru "Liman Soka” tentang ilmu pengetahuan yang sedih. Lagu “Siliwangi” dipilih sebagai penutupnya. "Bangsa kita sekarang tersesat di jalan yang lurus,” kata Man, vokalis Jasad.

Panggung terus bergema. Vokalis Disavowed berhasil membangkitkan gairah penonton. Larangan dari pria berlabel Front Pribumi tidak dihiraukan sampai akhirnya anggota KGP itu malah menemani sang vokalis melakukan aksi body surfing sambil memegang gadget untuk merekam suasana di area penonton sebelah kiri maupun kanan.

Selesai Disavowed dan Kedjawen, penutupan telah tiba. Pemasangan bendera bertuliskan Gorgoroth "Quantos Possunt Ad Satanitatem Trahunt” [judul album kedelapan Gorgoroth] atau dalam bahasa Latin They draw as many as they can toward Satanism memberikan pertanda band black metal asal Norwegia segera menggebrak panggung.

Gitaris Infernus yang merupakan pendiri sekaligus satu-satunya personel asli tampil bersama Bøddel [bass], Tomas Asklund [drum], dan Atterigner [vokal]. Mereka tampil untuk pertama kalinya di Indonesia bahkan Asia. Tata cahaya panggung didominasi merah. Malam semakin larut dengan iringan lagu macam “Destroyer”, "Incipit Satan”, dan “Krig” yang tidak asing bagi pecintanya.

Selain menyuguhkan musik, K666 Metalfest punya tradisi. Sebagian orang yang menerima bisa menganggapnya sebagai rezeki, atau mungkin mereka merasa sang dermawan KGP butuh dukungan untuk naik tahta.

Alam dari Ciamis, salah satu yang beruntung. Ia mendapatkan uang senilai IDR 500K karena berulangtahun pada hari yang sama. Kemudian pemandu acara menyuruhnya berterimakasih kepada Tuan KGP.

Dua bulan sebelum Brutalize in the Darkness digelar, dua band metal lokal: Down For Life [Solo] dan Burgerkill [Bandung] memutuskan cabut dari daftar penampil lewat pengumuman di media sosial, setelah akun media sosial Facebook Ki Gendeng Pamungkas mengunggah pesan terkait isu SARA, yang kemudian postingan itu dihapus saat pergantian hari.

Mendatangi acara musik di Bandung atau Bogor bisa jadi penyegaran karena udaranya sedikit lebih melegakan daripada ibukota. Namun yang tidak beda soal kebersihan tempat acara. Sangat disayangkan penyelenggara selalu mengesampingkan hal ini. Semoga tersadar untuk melakukan evaluasi agar mengerti makna kesuksesan acara yang sebenarnya. [][teks & foto @pohanpow]