}
Konser Satu Hati demi Pesantren di Amerika Serikat
News

Konser Satu Hati demi Pesantren di Amerika Serikat

by Pohan
Wed, 31-Jan-2018

Tak mudah buat menyatukan hati manusia demi mencapai satu tujuan agar tetap jalan beriringan kecuali merebut cinta Allah. Mengawali tahun 2018 ini, Konser Satu Hati sukses digelar pada Sabtu, 27 Januari 2018 lalu di Kuningan City, Jakarta.

Panggung dimeriahkan Snada, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono, Ita Purnamasari, Indah Dewi Pertiwi, dan Opick yang diiringi tarian sufi. Rencananya, konser juga menyambangi dua kota lain; Bandung 4 Februari 2018 dan Pekanbaru 25 Februari 2018.



Konser ini merupakan penggalangan dana untuk membangun pusat perkembangan agama Islam di Amerika Serikat yang digagas Imam Shamsi Ali adalah imam di Islamic Cultural Center of New York dan Nusantara Foundation di New York.

Pusat perkembangan agama Islam yang dimaksud dalam format asrama tempat santri alias pesantren. Pesantren yang diberi nama Pesantren Madani Nusantara tersebut segera didirikan di sana, tepatnya di daerah Moodus, Connecticut.

Imam Shamsi Ali melihat perkembangan Islam di Amerika cukup pesat mencapai 20.000 orang per tahun, "Kebanyakan mereka yang masuk Islam itu adalah mereka yang muda, terdidik, profesional, orang-orang yang cukup berpenghasilan.”

Banyak persoalan yang membelenggu di dunia Islam terutama yang berkaitan dengan terorisme, Islamophobia, serta kesalahan persepsi tentang Islam yang menanjak dari serangan 9/11 atau nine eleven.

"Kami ingin memperbaiki persepsi Islam yang sengaja atau tidak disengaja rusak di Amerika Serikat. Tapi juga saya kira yang terpenting adalah saya ingin membuat sejarah baru,” ungkapnya.

Dalam kesempatan jumpa pers, Imam Shamsi Ali berterimakasih kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang memberikan kontribusi. Tak ketinggalan nama yang ia sebutkan Tamsil Linrung pemilik Insan Cendekia Madani.

“Sejujurnya beliau yang mengusulkan kepada saya pertama kali untuk mendirikan pesantren di Amerika Serikat karena memang selama ini kami sudah ada kerjasama dengan beliau.”

Bukan tanpa alasan, dinamakan Pesantren Madani Nusantara. Menurut Imam Shamsi Ali, “Penamaan ‘Pesantren' ini bertujuan salah satu di antaranya ingin mengatakan bahwa Indonesia punya kontribusi besar di dalam pembangunan dakwah global."

"Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang ada di Indonesia ini harus kita globalkan. Harus menjadi go international. Oleh sebab itu nama ‘Pesantren’ akan tetap saya pakai di mana pun nantinya. Nama Pesantren harus kita pasarkan karena itu identik, dan kita sebagai bangsa muslim terbesar dunia."

Tanah sekitar 7,4 hektar yang akan dibangun sudah dibayar 30% uang mukanya, dan selebihnya pembangunan jangka panjang. Imam Shamsi Ali menceritakan asal muasal pemilihan tanah di sana.

“Awalnya, tanah ini dulu sekolah. Sudah ada gedung sekolahnya. Tapi kemudian setelahnya ditutup. Dan kemudian dibeli ada seorang Islam dari Pakistan ingin menjadikan sekolah. Tapi tidak berhasil mendirikan sekolahnya. Lalu, kemudian disewakan ke peternakan ayam.”

"Peternakan bangkrut dan orang Pakistan tadi ingin menjual tapi harapannya tetap dibeli orang Islam, dan ingin agar itu dijadikan sebagai institusi atau pusat pendidikan. Makanya dijual sangat murah kepada kita. Alhamdulillah.”

Gedung yang sudah ada bakal direnovasi sebagai pembangunan tahap pertama. Imam Shamsi Ali pun membocorkan soal perhitungan biayanya sekitar $150.000-200.000. Sementara harga untuk melunasi tanah masih memerlukan sekitar $400.000.

Pesantren ini sedikit berbeda dari pesantren-pesantren di Indonesia pada umumnya terutama masalah pakaian. "Kalau di sana saya kira di musim dingin pakai sarung masuk angin anak-anak santri. Tentu akan disesuaikan juga. Makanya saya bilang pasti akan ada penyesuaian-penyesuaian termasuk kurikulum.”

Selain pakaian, hal lain yang diperhatikan soal pembelajaran. Imam Shamsi Ali menegaskan, "Tidak mustahil kita akan tetap mengkaji kitab-kitab kuning. Di satu sisi juga, kita akan menyesuaikan dengan kebutuhan karena tujuan dari pesantren salah satunya adalah mengkader para imam dan dai untuk dunia barat khususnya Amerika Serikat.” [][teks & foto @pohanpow]