}
Jakarta --lagi-lagi-- Terancam Banjir
News

Jakarta --lagi-lagi-- Terancam Banjir

by Intern
Sat, 10-Feb-2018

Masuk musim penghujan, Jakarta nggak pernah absen jadi salah satu kota yang didatangi genangan air. Banjir menjadi permasalahan yang belum dapat teratasi dari masa ke masa.

Sejak era Batavia yang didirikan Jan Pieters Zoen Coen pada awal abad ke-17, di Kota Pelabuhan Sunda Kelapa itu berdiri dengan konsep kota air [waterfront city] mirip dengan negeri Belanda.

Saat itu, Batavia dihantui penyakit kolera dari nyamuk mal-area [malaria]. Kanal-kanal jadi dangkal karena pengendapan dan menjadi sarang nyamuk malaria itu.


Pada masa itu banjir dianggap sebagai masalah kronis, Hingga akhirnya Batavia membuat slogan yaitu "Dispereert niet" yang berarti 'jangan putus asa', termasuk menghadapi banjir yang akan terus menyertai warga kota ini.

Banjir juga disebut sebagai salah satu permasalahan klise yang susah dihilangkan. Tercatat sejarah banjir di Jakarta, sejak pada zaman Batavia sudah kesulitan menangani bencana alam ini. Misalnya catatan banjir pada 1621, 1654, 1873, dan 1918, banjir sudah menggenangi permukiman warga karena limpahan air dari Sungai Ciliwung, Cisadane, Angke, dan Bekasi.


Sampai periode ini terhitung di 1979, 1996, 1999, 2002, 2014, dan 2007 banjir besar terjadi pada beberapa tahun tersebut. Walaupun sudah banyak cara yang dilakukan oleh sistem pengendali banjir dan sudah dibenahi, tapi siklus banjir Jakarta, yang dikenal siklus “lima tahunan” tetap terjadi di waktu yang belum tentu bisa diprediksi.

Commuters, menurut kalian bagaimana jika permasalahan ibukota yang satu ini nggak hilang-hilang? Apalagi untuk kalian yang memiliki segudang kegiatan. Harus mulai dari diri sendiri, biasakan untuk jaga lingkungan sekitar ya! [][teks @syahrima/nationalgeographic.co.id | foto courtesy of ANTARA FOTO]