}
Ngobrol Publik: "Hoax, Tantangan Literasi Terhadap Informasi"
News

Ngobrol Publik: "Hoax, Tantangan Literasi Terhadap Informasi"

by Hagi
Fri, 11-May-2018

Commuters, Kementrian Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia mencatatat ada 800.000 situs penyebar konten hoax yang beredar di media sosial sejak tahun 2015. Seperti diketahui umum, hoax didefinisikan sebagai kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat [Oxford English Dictionary].

Kondisi banjir berita bohong ini semakin rumit mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tidak tinggal di kawasan urban, masih berjuang dalam meningkatkan kemampuannya mencerna informasi. Alih-alih ingin menujukkan sikap kritis dan terdepan dalam menyebarkan informasi, yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat Indonesia tampak merespon sebuah informasi secara ‘dangkal’.

Pesta Pendidikan [PeKan] sebagai jaringan kolaborasi “barengan” para pegiat pendidikan lintas profesi dan geografis yang digelar dengan tema “Barengan Berkarya untuk Pendidikan di Pesta Pendidikan” juga peduli dengan permasalahan ini.

Untuk itu, digelarlah Ngobrol Publik dengan tema "Hoax, Tantangan Literasi Terhadap Informasi" [09/05] di Perpustakaan Kemendikbud Jakarta. Diskusi ini menampilkan panelis Direktur Eksekutif ID COMM Sari Soegondo, Kepala Peliputan Kumparan.com Ikhwanul Habibi, dan Pemimpin Redaksi MacroAd LINIKINI Hagi Hagoromo.

Diskusi dibuka dengan pemaparan Sari tentang catatan UNESCO pada 2017, yang menyebutkan bahwa hanya 1 dari 10.000 orang Indonesia yang membaca 1 buku per tahun. “Sedihnya, Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvey,” ujar Sari. Kondisi inilah, yang menurut Hagi juga sebagai alasan mengapa masyarakat kita, setidaknya pernah menjadi korban hoax, “Atau parahnya,” kata Hagi, “Sadar tanpa sadar, juga sebagai penyebar hoax.”

Selain karena tingkat literasi yang rendah, penyebab yang menyebabkan masyarakat menjadi korban hoax antara lain karena malas cek ricek dan punya persoalan suka dan tidak suka. Problem inilah yang kian memperparah kondisi penyebaran hoax di masyarakat, terutama di media sosial.

Menurut Habibi, pola manusia mengonsumsi informasi mulai berubah. Saat ini manusia lebih suka mencari informasi dari media sosial. Masalahnya, media sosial seperti hutan belantara, kita tidak tahu mana yang hoax dan tidak. Untuk itulah kehadiran media terakreditasi atau media kredibel diperlukan. “Kamilah kompas di tengah hutan belantara informasi itu,” ujarnya.

Baik Sari, Habibi, maupun Hagi sepakat bahwa ciri-ciri umum hoax adalah mencantumkan sumber berita yang tidak valid atau tidak bisa diverifikasi. Selain itu, hoax cenderung tidak memuat berita yang berimbang dari setidaknya dua sisi dan biasanya ditulis dengan nada tendensius. Ciri lainnya adalah kerap menampilkan narasumber anonim.

Agar tak menjadi korban hoax atau penyebar hoax, Sari memberi tips mengenali dan menghindari jebakan hoax:
1. Perhatikan judul
2. Perhatikan sumber berita
3. Cek fakta umum
4. Perhatikan sumber foto
5. Periksa hoax melalui situs turnbackhoax.id
6. Manfaatkan browser
7. Rujuk pada sumber informasi terpercaya
8. Filter berita dari akun FB

Karena tidak ada hadiah ataupun juara dalam cepat-cepatan menyebarkan berita, maka sebaiknya kita sabar untuk menunggu berita yang bisa lebih dipercaya. “Caranya yaitu dengan banyak membaca dan bijak memilah-milah informasi yang kita dapatkan,” tutup Hagi. [][teks @evaevilia666 | foto @IDComm_id]