}
News

Sajama Cut Tawarkan Eksplorasi Baru dengan Hobgoblin

by Pohan
Tue, 07-Jul-2015

Setelah merilis ulang album Manimal dalam format kaset [pro-tape] bertepatan dengan perayaan Record Store Day, Sajama Cut kembali dengan album terbaru bertajuk Hobgoblin, yang dirilis dalam format CD dan kaset pada 10 Juni 2015. Album mereka ini dipayungi label Elevation Records dengan bantuan distribusi dari Demajors. Rencananya, vinyl 12” pun segera beredar.

Band asal Jakarta ini dipunggawai Marcel Thee, Dion Panlima Reza, Hans Citra Patria, dan Randy Apriza Akbar. Di albumnya ini, mereka melakukan eksplorasi dengan kompleksitas lirikal, musikal, emosional, dan aransemen yang semakin dalam. Sedangkan nama Hobgoblin merupakan istilah yang biasanya diaplikasikan dalam dongeng untuk menggambarkan jiwa yang nakal.

“Kami bukan band yang pernah dapat dirangkum dengan satu kalimat – baik itu Indie rock, alternative, punk, shoegaze, lo-fi, atau apapun yang ingin disebut orang,” jelas Marcel.

“Album ini semakin memperjelas itu. Elemen-elemennya begitu banyak,  mulai rock berbagai era, pop berbagai era, ambient dan punk berbagai era – Kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosankan dan tidak organik,” imbuhnya lagi.

Proses penggarapan album Hobgoblin terbilang cukup lama. Sajama Cut merekamnya dalam waktu 5 tahun di berbagai studio berbeda secara profesional termasuk di home studio.

Single pertama album ini, “Bloodsport” bisa didengarkan melalui soundcloud.com/sajamacut dan video musiknya sudah tayang via kanal YouTube resmi Sajama Cut [klik gambar di atas].

Uniknya, format album Hobgoblin menampilkan sampul yang berbeda-beda. Semuanya merupakan karya seni lukis Eric Krueger, seniman asal Amerika. Sedangkan layout dan fotografinya secara konseptual digarap oleh Table Six Jakarta.

Kover CD Hobgoblin


Kover kaset Hobgoblin

Selain Eric Krueger,  mereka pun melibatkan seniman, ilustrator, penulis puisi, kolase artis, dan fotografer dari pelbagai penjuru nusantara: Dwiputri Pertiwi, Ebes Rasyid, Aditya Kuncoro, Ivan Timona, Raditya Ramadhan, Banu Satrio, Katherine Karnadi, Mufty “Amenk” Priyanka, Joseph Putra Wibawa, Dimas Wijil Pamungkas, Kendra Ahimsa, Rhoald Marcellius, Eric Wiryanata, Robby Wahyudi Onggo, Rega Ayundya Putri, Anzi Matta, Fandy Susanto, dan Mahendra Nazar untuk penggarapan art book - termasuk dalam paket khusus album Hobgoblin melalui pembelian online di elevationrecords.co.

Berikut wawancara singkat Reporter @pohanpow bersama Marcel Thee, leader dan multi-instrumentalist Sajama Cut yang telah memimpin band ini sejak konsepsinya pada tahun 1999:

Kenapa proses penggarapan album ini begitu lama?
"Prosesnya lama karena saya ingin menyempurnakan fondasi dasarnya dengan baik, dan itu cukup makan waktu. Draft awal saya kerjakan sendiri dari sekitar tahun 2011 sampai 2013; jadinya gitar, vokal dasar, drums, keyboards, synth, programming, dll. Nah, sekitar tahun 2014 baru mulailah masuk anak-anak untuk mengisi part mereka [beberapa part Dion sudah di-take sekitar tahun 2012-2013]. Jadi bisa dibilang karena proses kami memang cukup panjang dan ini juga adalah pertama kali kami self-produced. Jadi, banyak kendala teknis dalam produksi."

Apa alasan memilih "Bloodsport" sebagai single pertama album Hobgoblin?

"Saya rasa 'Bloodsport' itu adalah yang paling seimbang menjembatani SC dulu dan SC sekarang. Dari melodi yang menurut saya, khas kami, dan juga instrumentasi yang benar-benar menunjukkan karakter Dion, Randy dan Anes. Secara lirikal, saya juga senang dengan kesinisan dan humor yang ada di dalamnya, benar-benar 'Sajama Cut banget'."

Kenapa penulisan lirik lagunya kebanyakan berbahasa Inggris?
"Kami band yang sama sekali egois. Musik ini kami buat 100% untuk kami dan Sajama Kids yang benar-benar 'ngerti' kami. Bukan dalam arti harfiah lirikal, tapi secara emosi dan cinta akan musik sebagai sesuatu yang lebih daripada 'hiburan hits'. Kalau kami menulis lagu dalam bahasa Indonesia seperti di 'Apologia', itu lebih karena terjadi secara organik. Bagi saya, planning itu merusak kemurnian lagu."

Apa alasan Hobgoblin dirilis dalam 3 format: CD, kaset, dan vinyl [TBA] dan ceritakan soal keterlibatan seniman menggarap kover albumnya.
"Ini juga salah satu cara yang membuat bermusik menjadi seru untuk kita  berkolaborasi, saling bertukar pikiran, ide dan konsep. Sedangkan untuk kover, ini juga kesempatan bagi kita untuk mengeksploitasi kesempatan kreatif yang ada. Dan Eric Kruger juga seorang seniman yang karyanya sangat cocok dengan intrepetasi 'hidup dewasa di Indonesia yang indah namun juga chaotic' pada album ini."

Menurut kabar, penjualan album Hobgoblin mencapai angka 800 kopi. Bagaimana tanggapannya?
"800 kopi itu adalah dari pre-order saja dan dari penjualan di toko-toko independen seperti Omuniuum, Warung Musik, Kineruku, Thief Shop, dll  jadi belum dari distribusi luas [dalam waktu dekat baru mulai bisa di dapat di toko-toko musik 'besar']. Tentunya kami senang sekali dan berterimakasih bahwa fans kami para Sajama Kids yang selalu setia dan mendukung. Ini berkah bagi kita semua. Tapi kami juga tahu, ini berarti dorongan bagi kami untuk selalu bereksplorasi lebih dalam dari sebelumnya. The ceiling always gets higher as the expectations and love gets bigger." Sebagai tanda syukur, Sajama Cut bagi gratis rekaman Acoustic at Ruru Radio LokalWisdom yang dapat diunduh melalui tautan ini.


[][foto dok. Sajama Cut]