}
News

'Bersama Project' Kampanyekan Kesetaraan Gender

by Pohan
Tue, 07-Jul-2015

Persoalan gender di muka bumi ini tak kan pernah habis-habisnya jadi wacana dan perbincangan. Maklum, masalah gender adalah selalu bermuara pada identifikasi perbedaan antara lelaki dan perempuan dari berbagai aspek kehidupan. Namun, kaum perempuan lah yang kerapkali menjadi sosok yang dirugikan dalam pembedaan indentifikasi ini.

Melihat kondisi tersebut, musisi sekaligus aktivis, Kartika Jahja bersama rekannya, Rebekah E. Moore berinisiatif mendirikan Bersama Project atas kerjasama dengan LSM Search for Common Ground. Mereka berdua mempunyai keresahan yang sama tentang persoalan gender, di antaranya masalah kekerasan terhadap perempuan.

Melalui musik dan seni, Bersama Project ingin membangun masyarakat yang setara dan bebas dari kekerasan berbasis gender. Di dalam rumahtangga, lingkungan kerja, di jalanan, sekolah, dan apapun identitasnya, setiap perempuan berhak merasa aman, kuat, dan benar-benar setara. Kesetaraan gender yang dimaksud adalah kolaborasi antara perempuan dan laki-laki. Bersama Project percaya bahwa intervensi kreatif dapat mewujudkannya.

Acara peluncuran Bersama Project digelar hari Kamis [2/6] di Paviliun 28, Jakarta yang dimulai dengan diskusi "Intervensi Kreatif Untuk Kesetaraan Gender".

Diskusi melibatkan Teraya Paramehta [musisi, akademisi], Savina Hutadjulu [musisi, aktivis], Wening Gitomaryo [jurnalis musik], Ika Vantiani [seniman visual, kurator, penggiat zine], Syaldi Sahude [pendiri Aliansi Laki-laki Baru], Tika dan Bekah serta dihadiri tamu undangan, dan rekan-rekan media.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama. Lepas Maghrib, giliran pemutaran video kampanye pertama Bersama Project #1Voice4Women di bioskop Paviliun 28. Keempat video kampanye digarap oleh Flo Hadjon yang menampilkan rekaman live bonita & the hus BAND membawakan lagu "Ain't Gonna Fall", Tika and The Dissidents "Tubuhku Otoritasku", Wonderbra "Indie V", dan Yacko "It's ok".

Dalam video, mereka juga bersuara tentang pengalaman-pengalaman masing-masing dalam menghadapi ketidaksetaraan gender serta perspektif mereka untuk mewujudkan kesetaraan melalui musik. Lihat video di tautan ini.

Tidak berhenti di situ, acara peluncuran Bersama Project ditutup penampilan musik dari keempat musisi pendukung kampanye #1Voice4Women ditambah aksi memukau Jemima dan Nadya Fatira. Meskipun kondisi kesehatan Yacko sedang tidak fit, ia tampil bersemangat. Meminjam istilah seseorang, teman adalah kekuataan. Bersama Project membuktikan hal itu dan disambut baik para hadirin.



Reporter @pohanpow sempat menemui Bekah di sela-sela acara. Bekah mengatakan bahwa masyarakat umum harus mulai berkomunikasi mengenai masalah kekerasan yang terjadi. Korban tidak perlu merahasiakan apalagi menyembunyikan kejadian.

"Dalam setiap lingkungan ada kasus kekerasan terhadap perempuan. Terlalu sering kita menghadapinya. Kekerasan di tempat kerja, rumah tangga, di sekolah, di jalanan. Bahkan aku bisa bilang bahwa dalam tubuh kita sendiri juga ada kekerasan. Maksudku dengan masalah percaya diri [identitas], bagaimana kita memandang dan memperlakukan tubuh kita. Kita harus menyadari persoalan ini dulu, kemudian kita bisa bicara tentang solusi" kata Bekah.

Bekah menilai bahwa seni mungkin bisa menjadi medium komunikasi untuk kampanye ini. Bekah dan teman-temannya pun akan mempelajari dan menelitinya. Menurutnya, gerakan ini tidak cukup hanya dengan suara yang keras bilang 'oke, ada persoalan', tapi juga harus dengan kemarahan.   

"Untuk mencari solusi, pertama, kita harus marah dengan persoalan yang terjadi, lalu mencari dan menuntut solusinya. Dan itu perlu kolaborasi di antara laki-laki dan perempuan. Kalau perempuan direndahkan, berarti itu masalah hak manusia, dan semua akan kena dampaknya," jelas Bekah.

Berikut wawancara @pohanpow dengan Kartika Jahja, penggagas Bersama Project:

Bagaimana awal mulanya Bersama Project dibentuk?
“Awalnya dari keresahan kami: aku dan Bekah - tentang persoalan seputar gender yang kami lihat dan alami sehari-hari. Mulai dari kekerasan seksual, street harassment, Perda soal pakaian perempuan, tes keperawanan, dan hal-hal menyebalkan lainnya yang terjadi pada kita hanya karena kita perempuan. Aku sendiri beberapa tahun ini melibatkan diri di beberapa gerakan kesetaraan gender, tapi itu terpisah dari kegiatan bermusik aku. Lalu suatu hari Bekah mendatangi aku dengan ide mengkolaborasikan kampanye kesetaraan gender dengan musik dan seni. Sejak itulah Bersama Project lahir.”

Apa alasan Bersama Project percaya bahwa intervensi kreatif dapat mewujudkan kesetaraan gender?
“Musik dan seni punya potensi untuk jadi lebih dari sekedar hiburan dan pajangan.  Kalau kita pergunakan dengan tepat, musik misalnya bisa jadi penyampai pesan yang sangat efektif, nggak menggurui, dan bisa menyebar dengan organik.”

Setelah diskusi, apa kesimpulan yang Tika dapatkan dari teman-teman yang hadir?
“Kami senang karena ini agak beda dari diskusi biasanya. Biasanya panelis diskusi kan aktivis, akademisi. Pokoknya, serius deh. Diskusi ini kami gabungkan akademisi, aktivis, jurnalis, perupa dan musisi. Meskipun satu visi untuk kesetaraan, masing-masing punya pendapat dan pengalaman yang berbeda yang jadi masukan berharga untuk Bersama Project dalam merancang campaign-campaign berikutnya.”

Lalu, apa rencana/langkah Bersama Project selanjutnya pasca peluncuran?
“Kami masih sangat baru. Yang kami luncurkan kemarin baru pilot project. Saat ini kami ingin terus melakukan riset sambil bereksplorasi dengan metode dan medium baru untuk mempromosikan kesetaraan, tentunya dengan berkolaborasi dengan seniman-seniman lagi. Untuk masa mendatang, kami juga nggak ingin  berkolaborasi dengan seniman di lingkungan kami saja. Menurut kami akan lebih keren kalau bisa lintas disiplin dan lintas genre. Misalnya dari indie, punk, dangdut, sampai ke band top 40.  Kami yakin karena masing-masing punya pengalaman dan sudut pandang yang menarik dan berbeda.” [][foto @pohanpow]