Langkah Politis Bung Karno Menggelar PON
Politik

Langkah Politis Bung Karno Menggelar PON

by Pandu
Wed, 09-Sep-2015

Setiap empat tahun sekali, PON selalu digelar untuk memperingati Hari Olahraga Nasional pada 9 September. Memasuki tahun 2016, Jabar rencananya akan menjadi tuan rumah penyelenggara PON XIX. Diikuti 33 provinsi lainnya yang mempertandingkan 43 cabang olahraga berbeda.

Sejak awal, kota penyelenggara selalu berpindah-pindah. Pertama kali perhelatan ini digelar di Solo tahun 1948. Kerisedenan Pakubuwono dipilih karena ketika itu cuma di kota ini ada stadion bertaraf internasional, yakni Stadion Sriwedari. Inilah satu-satunya gelanggang yang dibangun oleh pribumi setelah kemerdekaan.

Hari pembukaan PON I di tanggal 9 September itu lalu dijadikan Hari Olahraga Nasional. Ada 13 kota yang ikut kompetisi ketika itu. Rata-rata kota dari pulau Jawa, yakni: Solo, Yogyakarta, Kediri, Bandung, Madiun, Magelang, Malang, Semarang, Pati, Jakarta, Kedu, Banyuwangi dan Surabaya.

Mereka menurunkan 600 pemuda daerah terbaik untuk mengikuti 9 cabang olahraga, yakni: Bulutangkis, Renang, Tenis, Panahan, Pencak Silat, Bola Basket, Atletik, Lempar Cakram dan Sepakbola. Solo sebagai tuan rumah akhirnya keluar sebagai pemenang, dengan meraih 36 total medali, 16 di antaranya medali emas, 10 perak dan 10 perunggu.

Penyelenggaraan PON I juga tidak terlepas dari unsur Politik Mercusuar yang diusung Bung Karno. Mengingat kondisi Negara yang belum stabil ketika itu. Saat itu memang perang melawan Belanda masih berkecamuk di mana-mana.

Langkah ini diambil setelah Indonesia ditolak untuk ikut Olimpiade ke-14 di London. Inggris secara tegas menolak kehadiran atlet NKRI. Alasannya, Indonesia sebagai negara baru belum punya prestasi apapun di bidang olahraga internasional. Jadi, saat itu, Inggris menilai Indonesia belum  dikategorikan layak.

Sementara itu di sisi lain, Inggris merupakan sekutu Belanda yang belum menerima kemerdekaan Indonesia. Padahal secara politis, Olimpiade bisa menjadi ajang yang menunjukkan kedaulatan NKRI di mata internasional.

Maka itu, Bung Karno segera mengambil langkah tegas untuk membuat sebuah hajatan olahraga berskala nasional di dalam negeri. [][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto Wikipedia]