Kritik Lingkungan Sosial pada Jakarta Biennale 2015
Seni

Kritik Lingkungan Sosial pada Jakarta Biennale 2015

by Yogira
Wed, 25-Nov-2015

“Maju Kena, Mundur Kena” nggak cuma judul film Warkop. Tapi juga tema Jakarta Biennale 2015, di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta [14 November 2015-17 Januari 2017].

Jakarta Biennale adalah perhelatan seni rupa kontemporer dua tahun sekali. Kali ini mengambil tema “Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang”. Tema itu mencerminkan persoalan dilematis manusia ketika berhadapan dengan isu lingkungan sosial.

Kritik para seniman Jakarta Biennale 2015 bertitik tolak pada 3 isu, yakni air, sejarah, dan gender. Ketiganya dipersentasikan pada karya instalasi yang unik dan menarik. Misalnya karya instalasi dari Maryanto. Seniman asal Yogyakarta ini memakai media drum yang memancurkan minyak hitam. Inilah kritik pada masalah tambang minyak di Bojonegoro.

Kritikan keras  terlihat pada instalasi seni yang bergambar peta Indonesia bertuliskan “Terjual”. Sebuah karya bernada sinis terhadap eksploitasi sumber daya alam.

Ada pula seni mural “Save Bali from Drowing”. Karya ini terpapar sebagai protes seniman dan pencinta lingkungan terkait rencana reklamasi di Tanjung Benoa dan ekploitasi  tanah  di Bali lainnya.

Nggak cuma mengangkat persoalan lokal, pameran seni instalasi di Jakarta Biennale menampilkan persoalan internasional, misalnya suku Aborigin di Australia.

Kreativitas acara ini terlihat juga di ruang istirahat. Sebuah instalasi bertuliskan “Jakarta Really Really Free Market”. Sebuah protes terhadap kekuasan pasar.

Tentu saja, Jakarta Biennale nggak melulu memamerkan seni rupa. Tapi juga workshop, seminar, simposium, program anak-anak dan keluarga, serta program lainnya.

Nah, siapapun yang mencintai seni, silakan datang saja. Acara Jakarta Biennale 2015 gratis alias tanpa tiket masuk. [][teks & foto @firza]