Bila Bising Jakarta Diolah Jadi Tari
Seni

Bila Bising Jakarta Diolah Jadi Tari

by Yogira
Thu, 26-Nov-2015

Karya seni ternyata bisa mengungkap suara bising menjadi peristiwa yang dapat dilihat dengan cara berbeda. Kelompok seniman muda, Cut and Rescue menampilkannya dalam tarian kontemporer.

Cut and Rescue mempertunjukan karya  koreografi urban berjudul “Volution/Groove Space” di Komunitas Salihara, Jakarta pada 25, 26, 27, 28 November 2015.  Acara ini dalam rangka Jerman Fest di Indonesia berkat kerjasama Goethe Institut-Indonesian, Kedutaan Besar Jerman Jakarta, dan EKONIND.

Sebastian Mathhias sebagai koreografer Volution/Groove Space berupaya mengekplorasi  ritme ruang perkotaan Jakarta dengan segala kebisingannya.

Suara-suara bising, seperti klakson, laju kendaraan bermotor dan kereta api, suara langkah orang yang berjalan, ambulans, hingga peluit polisi diekspresikan jadi gerakan tari surealis. Artinya, kenyataan [fakta situasi Jakarta] direspons dengan gerakan tari sarat spontanitas oleh para penarinya [imajinasi harapan dan kritik dari koreografernya terhadap situasi Jakarta].

Pertunjukan tari ini tidak hanya memanfaatkan media suara sebagai pendukung gerakan, tetapi juga memfungsikan perpaduan seni instalasi antar-ruang [outdoor dan indoor] dengan berbagai perlambangnya, misalnya: ada ruangan berasap [kritik pada masalah polusi], ruangan hitam seperti black box dengan dekorasi untaian tetumbuhan [kritik terhadap kian terbatasnya ruang hijau perkotaan].

Bahkan sebelum ke ruangan “black box”,  di halaman utama Salihara hingga menuju tangga ruang pertunjukan utama, para seniman mengekpresikan Jakarta dengan simbol-simbol kepadatan jalan berupa iringan kendaraan sepeda motor, di antara deretan mobil yang terparkir berdempetan. Jadi, pertunjukan ini tidak hanya respons terhadap realitas Jakarta yang kian bising oleh suara, tetapi respons terhadap polusi dan kemacetan lalu lintas.  

Yang paling menarik pada pertunjukan koreografi ini adalah pelibatan penonton sebagai representasi publik secara umum yang menjalani rutinitas di Jakarta. Meskipun penonton cuma melihat dan mengikuti arah gerak penari, secara tidak sadar sebenarnya mereka ikut menari [walau dengan gerakan terbatas, spontan, dan tanpa harus latihan dulu].

Dalam pentas ini,  penonton [penari minor] dan penari Cut and Rescue [penari mayor] menjadi satu kesatuan pengolah ritme pada ruang pertunjukan. Bukankah hidup ini berirama seperti hidup di Jakarta? Kita sering bergerak dinamis dari satu tempat ke tempat lain dengan cara berbeda. Sebenarnya itu adalah tarian juga dalam panggung yang bernama dunia. [][teks & foto @firza]