Pameran Perlawanan terhadap Industri Musik
Seni

Pameran Perlawanan terhadap Industri Musik

by Pandu
Fri, 22-Jan-2016

Pelaku industri kreatif lintas disiplin, musisi, penulis, fotografer bahkan desainer grafis sepakat membentuk sebuah pameran. "Rock Memberontak: Melawan Pemangkasan Kenikmatan", begitulah nama pameran tersebut, sebagai perlawanan terhadap perilaku industri musik dewasa ini.

Dalam rilis yang kami terima, para penggagas pameran ini pun mengakui, perlawanan mereka agak absurd, tapi lebih baik ketimbang turun ke jalan.

“Ibarat kata makanan, dulu musik disuguhkan 4 sehat 5 sempurna, hari ini disajikan dengan standar junk food, seadanya saja. Kenikmatan musik kita sudah dipangkas. Dirampas!,” demikian tertulis pada press release mereka.

"Pameran Rock Memberontak: Melawan Pemangkasan Kenikmatan akan digelar selama sepuluh hari, mulai 23 Januari hingga 5 Februari. Studio Sang Akar, Jl. Tebet Dalam 1, No. 22, Jakarta Selatan dipilih sebagai lokasi hajatan.

Dalam kurun waktu tersebut, selain memampang karya foto-foto konser hasil jepretan Rudolf Maurits dan Adi Tamtomo. Penyelenggara juga sudah menyiapkan menu utama lain. Semisal, bedah buku Rock Memberontak karya Ekowustuk, oleh tiga panelis. Hearing session perdana, lagu “Jiwa Yang Berani” karya kolaborasi Che Cupumanik dan Robi Navicula. Serta pengulikan makna semiotika pada poster yang telah dibuat untuk komunitas Pearl Jam Indonesia dan Navicula oleh Davro [illustrator].

Sigit D. Pratama yang berperan sebagai kurator pun telah menyusun 16 komponen pameran yang keseluruhannya bercerita mengenai musik.

“Kita bisa panjang lebar berkeluh kesah menyalahkan industri musik dan pemilik modal. Ada benarnya juga. Mereka lah yang sudah dengan sengaja menghapus artwork dari album musik, meniadakan poster konser layak koleksi dan desain t-shirt yang layak pakai. Lebih parah, mereka dengan pertimbangan matang sudah menyunat kadar agresi (dan gugatan) dari lagu- lagu rock kita dan menjadikan konser rock sekadar hingar bingar ledakan tata suara dan tata cahaya yang membutakan mata, tanpa makna.”

Catat tanggalnya, datang, dan serap ilmu supaya jadi penikmat yang intelek. [teks: @HaabibOnta | foto: pr]