Sajian Magis The Human Zoo Theater
Seni

Sajian Magis The Human Zoo Theater

by Sherra
Fri, 14-Oct-2016

Sore itu [12/10], gelaran teater dari The Human Zoo Theater Company berhasil 'menghipnotis' saya di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta. “The Girl who Fell in Love with the Moon” menjadi salah satu rangkaian acara SIP-FEST [Salihara International Performing-Arts Festival], yaitu festival dua tahunan yang menghadirkan kelompok-kelompok seni penting dari indonesia dan mancanegara dalam bidang musik, tari, dan teater.

Indonesia beruntung, karena “The Girl who Fell in Love with the Moon” pertama kalinya dipertunjukkan di Asia. Para penampilnya adalah; Clive [Nick Gilbert], Luna [Florence O'Mahony], Scarlet [Fleur Rooth], Jack [Jack Roberts], dan Selena [Rosalind Hoy].



"The Girl who Fell in Love with the Moon" mengisahkan obsesi manusia pada langit. Kisah berawal saat Luna dan teman-temannya melakukan perjalanan dan kehilangan arah. Mereka pun berbicara kepada pohon dan bintang, mendiskusikan tentang langit dan sisi gelapnya. Dan saat pagi tiba, Luna hilang ke dalam cahaya.

The Human Zoo dengan pandai menyuguhkan cerita berbalut puisi, tari, dan musik agar pentonton terbawa dalam imajinasi visual. Cerita yang disajikan bercampur dengan mitologi, sejarah, dan cerita rakyat.


Unik banget. Ruang pertunjukan diatur dengan baik. Mulai dari koper-koper berisi segala macam properti yang unik, scene yang lucu, lontaran jenaka, dan gerakan imajinatif. Nggak heran, pertunjukkan mereka adalah unggulan kategori Best Young Production dari Brighton Fringe Awards 2016.

Sang sutradara yang juga pemeran Luna, Florence O’Mahony mengaku, persiapan untuk tampil di Indonesia adalah dari tahun 2014 dengan banyak perubahan yang disesuaikan dengan penontonnya.

“Kami membuat pentas ini pada 2014, tapi itu berubah berkali-kali. Kami sudah mengganti 5 orang yang berbeda untuk karakter Jack! Kadang juga ada musik yang baru. Di Indonesia misalnya, kami memainkan musik berbeda, karena tergantung dengan alat musik yang bisa dibawa di pesawat. Dan ya, ketika kami tampil, kami selalu beradaptasi dengan respons penonton, dan setelahnya kami akan berdiskusi, “Oh kita harus menambahkan ini! Kami harus melakukan itu,” terang Florence.



Dari cerita “The Girl who Fell in Love with the Moon”, Florence bilang, The Human Zoo ingin mengangkat tentang sifat manusia yang nggak pernah puas dengan yang diraihnya.

“Pentas pertama adalah "The Hive", yang ceritanya sangat sedih tentang berakhirnya dunia. Dan kami memutuskan untuk membuat yang ceria dan ringan. Namun tetap mengeksplorasi sisi kemanusiaan dan sedikit sisi gelap manusia, dan kami punya dark humor” tuturnya.

Florence  memutuskan untuk memasukkan unsur magis dan komedi pada karya ini untuk mengungkapkan bahwa manusia itu selalu menginginkan yang lebih.

"Kita itu serakah. Makanya kami menggunakan langit karena secara literal kita sulit menggapainya dan perlu usaha,” tegas Florence. [][teks @saesherra | foto Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya]