Teater Populer ‘Hidupkan’ Suara-suara Mati
Seni

Teater Populer ‘Hidupkan’ Suara-suara Mati

by Yogira
Tue, 06-Dec-2016

Teater Populer bangkit lagi dengan pementasannya. Mereka ‘menghidupkan’ lakon “Suara-suara Mati” di Blackbox Theater, Komunitas Salihara, Jakarta [1 & 2/12].

Lama tak terdengar gaungnya, kelompok teater yang lahir pada pada 14 Oktober 1968 itu bergema lagi melalui salah satu dedengkotnya, Slamet Raharjo. Dia sendiri jadi sutradara sekaligus salah satu pemainnya untuk lakon "Suara-suara Mati".

“Saya agak gemetaran setelah sekian lama nggak berteater. Apalagi saya sekarang bermain dengan teman-teman yang jauh lebih muda. Beda kalau saya bermain, misalnya dengan Didi Petet atau Deddy Mizwar, istilahnya, saya pakai perseneling yang sama. Nah, yang sekarang ini persenelingnya berbeda,” jelas Slamet sambil berceloteh mengenai kiprahnya bersama Teater Populer terkini.

Memang pada pementasan malam itu, Slamet tidak sendirian. Ketika berakting memerankan tokoh Suami, dia bermain dengan aktor lainnya, yakni Artasya Sudirman [Isteri], Jack Rachadian [Sahabat], dan Eduwart Manalu [Petugas Pos]. Keempat aktor inilah yang mempresentasikan “Suara-suara Mati” jadi teror psikologis yang membetot-betot emosi sekaligus menguji pemikiran tentang kebenaran dan pembenaran suatu masalah antarmanusia. Meski pemainnya cuma empat orang, pesan-pesan pada lakon ini jadi mengemuka pada persoalan universal dewasa  ini, termasuk aneka konflik di Indonesia belakangan ini.

Konflik pada "Suara-suara Mati" sebenarnya klise dan sederhana, yakni soal perselingkuhan. Istri  menyimpan rahasia besar dari Suami karena berselingkuh dengan Sahabat. Si Istri merasa diteror dengan suara-suara bayi dan juga ketukan, yang mungkin adalah refleksi dari dosanya sendiri.

“Hidup ini memiliki gema. Gema suara-suara yang menciptakan kenangan,” demikian salah satu kutipan dari monolog sang tokoh Suami. Sayangnya, dalam lakon ini, kenangan bukanlah sesuatu yang indah, tapi teror yang mengganggu mental. Teror ini sangat merasuk tokoh Istri sehingga akhirnya rahasia tentang dosa-dosanya terbongkar.

Melalui lakon "Suara-suara Mati", Slamet berhasil membangun kesadaran betapa pentingnya merenungi ‘kebenaran’ melalui ekspresi seni. Faktanya, banyak dialog maupun monolog yang puitis dan filosofis untuk menafsirkan kebenaran itu.

"Suara-suara Mati" merupakan saduran dari cerita berjudul Dode Klanken karya Manuel van Loggem, yang menampilkan tragedi cinta antara suami istri yang terperangkap rasa curiga. Nah, Dengan gaya penyutradaraan Slamet, lakon ini bisa dinikmati khalayak umum karena pengisahannya tidak sok ngjlimet atau berlimpah simbol. "Suara Suara Mati"  layak disebut pentas teater untuk penonton yang egaliter. [][teks & foto @firza]