Memulai Clothing Line dari Graffiti
Seni

Memulai Clothing Line dari Graffiti

by Sherra
Wed, 14-Dec-2016

Street Dealin X selesai digelar di Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran Timur, Jakarta akhir pekan lalu. ‘Hari raya’ anak graffiti ini dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara pada  5-10 Desember 2016.

Berbagai seniman graffiti lokal dan mancanegara turut hadir. Sebut saja: Artime Joe, Jayflow [Korea Selatan], Asmoe, Nestwo, Cloak [Malaysia], Boogie [CHE], Graver [Filipina], Nilko [Prancis], Nycer [Brunei], Song [Singapura], dan Zmogk [Rusia]. Dari seniman lokalnya ada Andre14K, Arghs 147, Bakore, Cakes, Demusashi, DNZ, Fine, Mersk, The Popo, dan masih banyak lainnya.

Bukan cuma acara bazaar, live painting, dan pentas musik, tapi ada juga diskusi terbuka, pemutaran film, dan eksibisi. Salah satu gelaran diskusinya itu mengenai “Street Art Merchandising”. Yup, sore waktu itu, para seniman sekaligus penikmat graffiti ngobrol-ngobrol santai bersama Aldi [DripsNDrops], Jablay [DSKL Foundation], dan Popo [Avokados].

dari kiri: Popo, Jablay, Aldi

Ngomongin soal merchandise, ternyata bukan semata-mata untuk meraup untung lho. Tapi hal itu adalah jalan untuk melebarkan koneksi ke teman-teman penggila graffiti dan jadi ajang tempat kumpul komunitas graffiti.

“Bukan cuma sekadar jualan tapi lebih ke koneksi yang bikin gue lebih besar. Kami dapat keuntungan dari temen ya kami balikin. Jualan bisa di website atau sosmed. Tapi kalau dari mulut ke mulut itu lebih dahsyat dan keren,” ujar Jablay, pemilik brand clothing DSKL Foundation.

Begitu juga kata Popo, seniman graffiti yang terkenal dengan karakter buah alpukatnya, “Merchandise ini untuk kelangsungan hidup si scene-nya [hasil karya]. Dan praktis membiayai hidup karya kami. Tapi di luar itu, ya jadi punya koneksi lebih luas.”

Coba, kamu termasuk orang yang suka beli merchandise dari para seniman graffiti nggak? Atau kamu adalah seniman graffiti yang baru pengin mulai melebarkan sayap ke merchandise?

Kalau menurut Jablay, hal pertama yang mesti disiapin tuh mental! Yes, kamu berani rugi nggak?

“Harus berani rugi. Kalau takut mending nggak usah mulai. Dari awal gue bikin DSKL gue termasuk orang yang nggak percaya dengan kepemilikan uang banyak. Tapi gue percaya kalau ada kemauan [pasti bisa maju],” kata pemilik clothing line dengan karakter nakal dan rese ini.

“Pertama kali gue bikin DSKL, gue cuma punya 1 lusin kaos. Pertama kali nggak laku, men. Bikin 12 yang laku cuma 6. Tapi dari hasil 6 yang kejual itu gue bikin lagi 1 lusin berikutnya. Dan 6 sisanya gue pakai buat campaign. Kalau konsisten ya adalah hasilnya,” cerita Jablay.

Pemilik akun Instagram @BujanganUrban ini bilang, kamu mesti bisa mengatur uang. Jadi kamu harus pisahin, yang buat modal dan yang buat pribadi. Jangan lupa juga buat cari referensi yang bagus. Referensi tukang sablon, misalnya.

Kayak yang dibilang Aldi. Pemilik brand DripsNDrops ini bilang, “Bandung tuh, salah satu daerah yang murah dan bagus di seluruh dunia. Coba deh jalan-jalan ke Bandung. Apalagi buat memulai brand clothing sendiri. Di sana harga sablonnya macem-macem. Orang Brunei aja nyablon di sana.”

Setelah itu, kamu harus tahu karakter dan target brand yang bakal dibuat. Iya, Jablay bilang, “Lo harus bisa positioning. Kalau cuma liat perkembangan zaman, lo harus punya uang yang banyak. Kalau lo punya prinsip, pegang teguh, lama-lama bisa jadi gede.”[][teks & foto @saesherra]