"Mati Berdiri": Komedi Kegamangan
Seni

"Mati Berdiri": Komedi Kegamangan

by Sherra
Tue, 14-Mar-2017

Helateater Salihara 2017 kembali digelar. Sena Didi Mime pun jadi penampil pembuka akhir pekan lalu. Kelompok pantomim ini digagas oleh Sena A. Utoyo dan Didi Petet sejak akhir 70-an dan berdiri tahun 1987.

Malam itu, Sena Didi Mime menampilkan lakon "Mati Berdiri" dibuka dengan alunan bunyi saluang. Suguhan teater tanpa kata ini dipadukan dengan pantomim. Ceritanya soal berhamburnya informasi yang sering memantik kegamangan di Indonesia sekarang ini.

Informasi yang menjebak di antara benar atau salah, fakta atau bukan dan cara menyikapinya. Keadaan yang sukar untuk diselesaikan, menjengkelkan, membuat hidup serba salah. Kalau ingin mati saja pun seolah-olah harus berdiri.

Nggak sepusing pesannya, penonton tetap bisa tertawa karena rangkaian adegan para pemain memang dibuat lucu. Sutradara Yayu Unru mengaku bangga karena akhirnya dia dan kelompok teaternya berkesempatan tampil di Komunitas Salihara.

Sena Didi Mime baru-baru ini meraih penghargaan The Craziest Production Award dari Academy of Performing Arts, Bratislava, Slovakia. Nah, di Salihara mereka  ternyata mampu berinteraksi dengan penonton dalam pertunjukannya. 

"Saya terpengaruh dengan teater tradisi dengan akrab ke penonton. Di era saya, 'mainin' penonton itu efektif membuat ketertarikan penonton. Tujuan kami memang menyatu dengan penonton," cerita Yayu.

Walaupun tiap tahun punya kesempatan untuk tampil di festival, ternyata Yayu bilang bahwa selama Sena Didi Mime tampil dari zaman dulu, nggak ada yang bisa ngerti dengan pementasannya.

"Banyak yang emosional tapi nggak ngerti. Mereka [penonton-red] bilang, 'saya nggak ngerti tapi saya suka'. Yaa, kalaupun pesannya nggak sampai, yang penting penonton bisa terhibur dengan ketawa-ketawa," tutup murid mendiang Sena A. Utoyo dan Didi Petet ini. [][teks & foto @saesherra]