Padnecwara Lestarikan Seni Tari Tradisional
Seni

Padnecwara Lestarikan Seni Tari Tradisional

by Yogira
Wed, 22-Mar-2017

Seni tradisional di Indonesia tak akan mati kalau dilestarikan secara kompak dengan pentas yang dikemas secara profesional. Kelompok kesenian Padnecwara mampu merealisasikan cara itu. Sanggar pimpinan Retno Maruti ini sudah mempertunjukkan tari tradisional sejak tahun 1976. Debut karyanya adalah “Damarwulan”.

Sejak itu, Padnecwara menjadi kelompok seni yang terus berkembang dengan melahirkan generasi baru. Salah satunya koreografer Rury Nostalgia. Baru-baru ini dia membuat karya seni tari “Arya Suta”, yang digelar di Taman Ismail Marzuki.

Meski pentas seni tradisi selalu dianggap sebelah mata dari sisi komersialitas dan popularitas, toh yang menonton tak hanya masyarakat biasa, tapi juga tokoh-tokoh terkenal, misalnya: Sapardi Djoko Damono, pasangan seniman suami istri, Nano dan Ratna Riantiarno, dan Mooryati Soedibyo.

Untuk pementasannya, "Arya Suta" mendapatkan banyak dukungan dari berbagai lembaga dan perusahaan, antara lain dari Badan Ekonomi Kreatif, Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik  Indonesia, PT. Pertamina [Persero], dll. Ini bukti bahwa seni tradisional bisa tetap eksis kalau digarap dengan manajemen produksi yang profesional.

Lakon "Arya Suta" melibatkan kolaborasi para penari dari Jakarta dan Surakarta. Selain Retno Maruti, penari lainnya adalah Fajar Satriadi, Yunu Swandiati, Ali Marsudi, Mahesani Tunjung Setia, Hany Herluna, dan Nungki. Mereka harus melakoni pentas menyoal tokoh bernama Karna yang bersitegang dengan para saudara seibu. Karna harus menghadapi adiknya sendiri, Arjuna dalam perang Bharatayuda. Karna begitu setia kepada istrinya, Surtikanti dan ibu angkatnya, Ibu Nada. Namun di sisi lain, dia mengalami perang batin karena konflik dengan Kunti, sang ibu kandungnya.

Demikian alur cerita "Arya Suta", yang diekspresikan dengan gerak tari dan dialog-dialog dan narasi khas dunia pewayangan. Karena berlatar belakang budaya Jawa, tokoh-tokoh ini pun menggunakan bahasa Jawa, yang rata-rata mengandung falsafah hidup untuk persoalan global manusia.

Berikut adalah perkataan tokoh Surtikanthi yang mengandung nilai moral berharga bagi umat manusia.

Lungguhing katresnan Ian kuwajiban
Lamun saged amiji samungkawis kang ngurakapi
Tumrap bebrayan kang nggadhang kamulyan
Kapitayan mrawasa pancadriya
Weninging cipta titis tur wicaksana

[Terjemahan Indonesia]
Sesungguhnya antara cinta dan kewajiban
Hanya bisa dilihat dari pilihan yang ditetapkan
Terhadap kehidupan yang mengarah pada kebaikan
Kepercayaan seringkali menutupi kepekaan
Hanya pikiran yang bening mampu melihatnya.

[][teks & foto  @firza]