Helatari 2017: Mohammad Hariyanto Menari dengan Seng
Seni

Helatari 2017: Mohammad Hariyanto Menari dengan Seng

by Yogira
Tue, 13-Jun-2017

Dalam pertunjukan tari ataupun drama, biasanya penonton sekadar penikmat dan penyaksi sajian di panggung. Tapi ini berbeda dengan pementasan Tari Ghalur pada rangkaian "Helatari 2017" di Komunitas Salihara, Jakarta [11/06]. Penonton pun terlibat sebagai bagian pertunjukan.

Sebelum memasuki ruang pertunjukan, penonton pementasan Tari Ghalur, yang masih di luar mendapatkan sambutan suara-suara mirip deras hujan. Begitu riuh dan memekakan telinga. Suara yang tak beraturan itu adalah injakan kaki para penonton di atas hamparan seng.

Tampak di dalam ruangan, sang penari, Mohammad Hariyanto berdiri mematung, seperti menatap kosong. Setelah semua penonton berkumpul meski tetap terdengar suara injakan kaki pada seng, Hariyanto memulai aksinya.

Layaknya ikan yang nyaris mati, Hariyanto tengkurap dengan tangan sedikit gerak, seperti manusia yang hidupnya kritis. Beberapa detik kemudian, dia berdiri, bergerak mengeksplorasi ruangan dengan liar dan gemulai. Hariyanto mengekpresikan semacam kegelisahan melalui gerak tari dalam waktu satu jam. Tentu saja, perlu energi dan latihan yang ekstra seorang penari sendirian menguasai penggung dengan gerakan yang lebih terlihat improvisasi ketimbang latihan terkonsep. Padahal kenyataannya memang Tari Ghalur ini tercipta secara konseptual oleh penarinya sendiri.

Hariyanto mementaskan Tari Ghalur di atas hamparan seng sebagai representasi keprihatinannya terhadap pembangunan, dan seng sebagai simbolnya, serta gerak tari dirinya sebagai korbannya. Lantas mengapa seng sebagai simbol, bukan bata atau rangkaian beton misalnya?

Ini mungkin berelasi dengan kesenian Topeng Ghulur, yang jadi inspirasi Tari Ghalur ciptaan Hariyanto ini. Topeng Ghalur adalah kesenian yang berasal dari Desa Larangan Barma, Kabupaten Sumenep. Sebagai daerah di Madura, Sumenep termasuk penghasil garam dan lokasinya berdekatan dengan pantai.

Nah, ada semacam korespondensi situasional antara fisik seng pada pentas Tari Ghalur dengan kondisi sosial geografis di Madura, yakni sama-sama memunculkan kilau perak [seng = butiran tambak garam] dan gelombang [seng di ruangan pentas Tari Ghalur = ombak pantai di pesisir Madura].

Kilau perak dan gelombang itu sama-sama bisa mempresentasikan nafsu keserakahan atas duniawi sekaligus kegelisahan manusia akibat keserakahan manusia lainnya. Layak diacungi jempol kepada Direktur Artistik, Hanafi Mohammad, yang merancang seng sebagai medium utama untuk mengakomodasi setiap gerakan tari Hariyanto.  Jadinya, pementasan Tari Ghalur tak hanya mengandalkan ekspresi gerak semata, tetapi juga menciptakan suara-suara yang spontan, melibat, dan aktual dengan perkembangan sosial ekonomi dewasa ini.

Melalui Tari Ghalur pula, Hariyanto menitipkan pesan bahwa manusia dan lingkungan alam kian terancam oleh percepatan industri urban, yang justru disadari atau tidak telah merusak nilai-nilai kemanusiaan. [][teks @yogirudiat | foto Komunitas Salihara]