Helatari 2017: Katia Engel, Pemahat Topeng, dan Indrajit
Seni

Helatari 2017: Katia Engel, Pemahat Topeng, dan Indrajit

by Sherra
Tue, 20-Jun-2017

Terinspirasi dari suara pada pembuatan topeng, seorang koreografer asal Jerman, Katia Engel memberikah suguhan "From Starting to Cut the Wood” yang ditarikan Ari Ersandi di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, [17/06].

Teater gelap, diiringi suara gergaji dan rekaman suara pemahat topeng bernama Enosh Mujiran. Ia menggambarkan karyanya dalam bahasa Jawa. Di belakangnya terdengar juga suara orang dan binatang. Tidak lama, muncul penari yang memvisualiasi suara rekaman dari langkah-langkah pembuatan topeng. Gerakan demi gerakan dari tiap langkah pembuatan topeng ditarikan berbeda.


Setelah sang penari tuntas menunaikan tugasnya, pemahat topeng masuk ke panggung dengan membawa perkakas dan topeng setengah jadi. Ia pun mengerjakan pekerjaannya sembari mencoba topengnya.

Katia menuturkan saat dia pindah ke pedesaan di Jogjakarta, dia melihat adanya koneksi antara pekerjaan [membuat topeng] dan lingkungan tradisional yang mulai terkoyak kemodernan. Dia pun mencoba belajar membuat topeng beberapa tahun lalu untuk mencari tahu lebih dalam.

“Dua tahun lalu hanya proses sederhana aja untuk melihat apakah ide ini bisa berjalan. Aku sempat kuatir apa mungkin membuat tarian dari sebuah pekerjaan seseorang. Dan ternyata bisa. aku pun berpikir apa yang bisa aku tambah agar ini bisa lebih memiliki arti, seperti lampu, teks, dan elemen lainnya,“ ujar Katia usai latihan, Jumat, [16/6].

Ari, sang penari mengatakan bahwa ia diberi ruang yang cukup untuk bereksperimen, “Saya membahasakan apa yang dia [Katia] inginkan. Soal gerak yang penting strukturnya clear, bagian per bagian. Dari awal saya menawarkan pilihan gerak hingga akhirnya dia yang menentukan mana yang sesuai dengan pesannya.”

Karakter yang dimainkan dalam pementasan adalah Indrajit. Adalah seorang tokoh antagonis dalam cerita Ramayana yang dikenal sebagai putra sulung Rahwana sekaligus putra mahkota Kerajaan Alengka.

“Untuk karakter [Indrajit] kami nggak menceritakan lebih dalam. Tapi Indrajit ini punya kebiasaan yang buruk. Nah, jadi yang ditampilkan lebih kepada esensi keburukan manusianya seperti ekspresi wajah yang berubah-berubah seperti manusia yang punya banyak karakter,” cerita Ari. [][teks & foto @saesherra]