Jun Sakata Gelar Pameran Seni Kertas Pelepah Pisang
Seni

Jun Sakata Gelar Pameran Seni Kertas Pelepah Pisang

by Hagi
Wed, 05-Jul-2017

Pelepah pisang buat apa? Itu kan sampah? Dibuang aja. Boleh jadi itu yang terpikir oleh kebanyakan orang. Tapi tidak buat segelintir pekerja seni. Salah satu di antaranya adalah Jun Sakata.

Pria kelahiran 1948 di Yokohama, Jepang ini mengubah pelepah pisang menjadi karya seni dengan estetika yang tinggi.

Sakata mengawali kariernya sebagai perancang bunga Ikebana warisan sang ayah, seorang grand master Ikebana Kou-fuu-ryuu. Kunjungan pertamanya ke Ubud, Bali, pada 1999 mengantarkan pria berpostur kurus dan jangkung ini menemukan cintanya pada kertas yang terbuat dari pelepah pisang. Sejak itu, lajang yang gemar jalan kaki ini memutuskan untuk menetap dan berkarya di Ubud.

Menurut Sakata, alam acap membuat kita takjub. Alam juga melimpahi kita segalanya. Tapi sayang, manusia modern sering lupa bahwa mereka hidup bersama alam. “Saya ingin mengungkapkan energi dan ilham dari alam melalui karya seni dari kertas pisang,” ujarnya.

Sakata kemudian bercerita mengenai materi utama karyanya, yaitu kertas pisang. Bahan-bahan berupa pelepah pisang ia dapatkan dari sekitar tempat tinggalnya di Ubud. Pelepah itu kemudian dihancurkan dan dibikin bubur, lalu dipress dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Semua proses dilakukan secara manual dengan tangan, sehingga setiap lembarnya memiliki keunikan dan berbeda satu sama lain.

Selain membutuhkan kesabaran, berkarya dengan cara seperti ini juga memerlukan pemahaman sejati dan penghormatan terhadap alam.

Senin malam [03/07] Sakata menggelar pameran tunggal lukisan dan instalasi kertas pelepah pisang di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Gelaran yang dibuka aktris dan seniman Jajang C. Noer ini menampilkan sejumlah karya Sakata yang menakjubkan.

“Pilihan bahan, tekstur, warna, dan komposisi dari karya-karyanya mengungkapkan filosofi mendalam,” kata kurator seni Merwan Yusuf yang juga hadir malam itu.

Coba perhatikan seni instalasi bertajuk “Wish”.

Karya ini berdimensi 320 x 50 cm dan terbuat dari kertas pisang panjang yang dibagi menjadi tujuh lipatan. Karya ini dilukis menggunakan kakishibu [jus getah buah kesemek] dipadu dengan cat minyak pastel. Karya spektakuler ini ternyata berpunggungan dengan karya bertajuk “Wind”, yang memanfaatkan lembar di balik “Wish”.

“Wind” dibuat menggunakan kertas pisang, cat minyak pastel, dan sumi [tinta hitam asal Jepang].

Karya lainnya cukup beragam. Dari yang berdimensi kecil, sampai yang besar. Dari instalasi yang terbujur di lantai, sampai yang menggantung di langit-langit.

Sayangnya, tidak semua karya instalasi Sakata dipamerkan di acara tersebut, mengingat keterbatasan tempat. Karya-karya Sakata juga pernah ditampilkan dalam pameran tunggal di beberapa kota di Jepang, di New York, dan di Jogjakarta.

Malam itu, ditemani penganan kecil dan nasi kuning, para pengunjung pameran melihat-lihat karya Sakata sambil menikmati pembacaan puisi haiku dari Noorca M. Massardi dan lantunan musik gitaris Jodhi Yuwono. Buat Commuters yang berminat menyaksikan pameran ini bisa turun di Stasiun Cikini dan berjalan kaki ke TIM. Hanya sampai 12 Juli, lho. [][teks & foto @hagihagoromo]