Pesta Para Pencuri: Intrik Pencurian Selendang
Seni

Pesta Para Pencuri: Intrik Pencurian Selendang

by Yogira
Wed, 26-Jul-2017

Indonesia Kita kembali menyuguhkan pentas teater modern dengan lakon bertajuk "Pesta Para Pencuri", di Taman Ismail Marzuki, Jakarta [21 & 22/7].

Sebagai penulis dan sutradaranya, Agus Noor kembali menyuguhkan dagelan, sindiran, kritikan terkait Indonesia dewasa ini, terutama dalam tataran sosial-politik, yang seringkali menggelitik untuk ditertawakan.

Kisahnya sih sederhana. Konon, di kampung antah berantah ada janda kaya raya bernama Nyonya Nyai Salma. Dia panik karena rumahnya kemalingan. Kebetulan, dia punya selendang sakti, yang dicari para pencuri. Selendang inilah yang menjadi pemicu intrik orang-orang yang mengenal dirinya. Mulai pencuri kelas teri hingga pencuri kelas kakap ingin mendapatkannya, termasuk orang-orang ‘dalam’ yang sebenarnya sudah menjadi kaki tangan Nyai Salma. Siapa sajakah mereka? Mengapa selendang itu begitu berharga dan menarik perhatian untuk dicuri?

Selendang dalam pentas "Pesta Para Pencuri" boleh dibilang simbol kekuasaan yang berbahaya, yang mengandung unsur mitos bahkan klenik. Siapapun yang bisa menguasai selendang itu, dia mampu mencuri apapun, termasuk mencuri hati nurani.

Nah, persoalan pencurian selendang ini sebenarnya berkelindan dengan situasi para penguasa di Indonesia dewasa ini. Di antara mereka, banyak yang jadi pencuri dengan cara mengkambinghitamkan para pencuri lainnya. Ya, Istilahnya, "maling teriak maling".

Secara konsep, Agus Noor terlihat cerdas tapi tidak gegabah menyindir para pencuri itu dengan dialog dan celotehan para pemainnya. Yang lebih penting lagi, intrik antarpencuri dalam lakon ini menjadi hiburan yang menyenangkan. "Pesta Para Pencuri" jadi dagelan yang mengocok perut penonton.

Lagi-lagi, para pemain seperti: Cak Lontong, Akbar, Trio GAM, Inayah Wahid, Susilo Nugroho, Marwoto menjadi pemicu ‘keributan’ para penonton, yang tak kuasa ngakak oleh omongan dan tingkah polah mereka. Malah, lawan main mereka yang tak terbiasa melawak, yakni: Happy Salma dan Alexandra Gottardo tampak sesekali tak kuat menawan tawa di atas panggung.

"Pesta Para Pencuri" kian berwarna dengan penampilan para penari I-Move pimpinan koreografer Rita Dewi Saleh dan lantunan suara sinden Silir Pujiwati. Perpaduan pentas mereka untuk mengisi jeda pentas para aktor, sedikit-banyak menurunkan tensi ‘urat-urat tawa’ para penonton.

Trio Indonesia Kita: Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor, yang merancang produksi ini layak dijuluki “Trias Politawa Indonesia”. Selamat!. [][teks @yogirudiat | foto. @haabib onta]