}
Preman Parlente: Preman Blasteran Batak Jawa
Seni

Preman Parlente: Preman Blasteran Batak Jawa

by Andiska
Sat, 10-Mar-2018

Jika dihitung, ini ibadah kebudayaan yang ke-27 yang digelar Indonesia Kita. Melalui lakon berjudul “Preman Parlente”, Indonesia Kita menggandeng seniman-seniman Batak untuk mengisi pentas perdana mereka di tahun ini.

Lakon "Preman Parlente" dibalut unsur Batak yang lumayan kental dari segi cerita, bahasa, dan musiknya. Sutradaranya Agus Noor dibantu tim kreatif seperti Butet Kartaredjasa, dan Djaduk Ferianto. Pementasan ini juga menggaet seniman Batak Viky Sianipar dan Paulus Simangunsong untuk mengisi musik dalam 3 jam pertunjukan.

Pentas dibuka Siantar Rap Foundation dengan sebuah lagu berjudul "Ucok Lontong", tari-tarian hip-hop yang energik juga menghiasi alunan lagu sehingga penonton dibuat berjoget sebelum menonton.

Mengisahkan lika-liku percintaan seorang lelaki bernama Ucok Lontong yang blasteran Batak-Jawa. Sosoknya dikenal sebagai penipu ulung berkedok pengacara yang ahli membolak-balikkan kasus persidangan. Dan pacar Ucok adalah seorang Batak tulen bernama Louise yang berasal dari Samosir. 

Diperankan Cak Lontong, Ucok selalu memecahkan tawa dengan gaya lawakan satir andalannya. Ia tampak tengil dengan kekayaan yang melimpah dan gelar yang banyak. Ucok juga bertemu teman satu kampungnya yang diperankan Akbar. Perbincangan Ucok dan Akbar pun jadi babak pembuka yang sangat menghibur.

Suatu ketika Louise meminta Ucok menemui ibunya, agar hubungan mereka yang telah bertahun-tahun mendapat restu. Atas saran dari Akbar, akhirnya Ucok mengajak Louise datang ke Samosir.

Sesampainya di Samosir, ada situasi tak terduga. Ada Marwoto dan keluarganya yang ingin menguasai kawasan di Samosir untuk kepentingannya. Marwoto menugaskan anak buahnya untuk membujuk dan menghasut warga agar mau menjual tanah mereka. Kemudian kekuatan uang Marwoto akhirnya bisa membuat para preman mendukung tujuan sang investor.

Melihat hal tersebut Ucok tak tinggal diam. Ia berusaha mencari cara untuk menjatuhkan Marwoto untuk menyelamatkan Pulau Samosir. Ucok pun akhirnya menyamar untuk mengetahui apa kelemahan Marwoto.

Budaya Batak yang ditunjukan dalam lakon ini tersebar di setiap babak. Mulai dari unsur musik yang selalu diisi alunan suara Louise Sitanggang di atas panggung, properti dan penampilan dari Paulus Simangunsong, Mery Sinaga, Viky Sianipar, Flora Simatupang, serta Grup Komedian Batak yang berjumlah 3 orang juga turut memberikan sentuhan budaya Batak yang sangat kental.

Marsudi dan Wisben yang tergabung dalam Trio Guyonan Ala Mataram [GAM] juga masih terlihat berusaha tampil "kawin" dengan pengisi grupnya yang baru dikarenakan berita duka atas meninggalnya Gareng. Tetapi mereka tetap tampil lucu dengan peran sebagai anak-anak dari Marwoto.

Di akhir cerita, Ucok berhasil menjatuhkan Marwoto namun masa lalunya sebagai preman terbongkar di hadapan calon mertuanya. Namun, hal tersebut tidak memperkeruh keadaan. Dengan terkuaknya rahasia tersebut, Ucok akhirnya malah meluluhkan hati calon mertuanya. 

Lakon "Preman Parlente" sebenarnya memiliki pesan tentang pentingnya sebuah kejujuran. Seperti apapun status sosial dan pekerjaan yang kita lakukan, sebaiknya dilakukan dengan kejujuran. Sebab, menjadi seseorang yang terpandang tetapi selalu berbohong demi mewujudkan tujuannya, sama sekali tak berguna. [][teks & foto @andiskaraf]