}
Princess Pantura: Ketika Dangdut Dicampuri Politik
Seni

Princess Pantura: Ketika Dangdut Dicampuri Politik

by Yogira
Wed, 25-Apr-2018

Dangdut tak sekadar musik. Dimensinya meluas dalam kehidupan Indonesia, baik secara kultural, sosial, ekonomi, maupun poltik. Indonesia Kita menampilkan multidimensi dangdut melalui lakon “Princess Pantura” di Taman Ismail Marzuki [20 & 21 April 2018].

Kawasan Pantura terpilih sebagai representasi identitas Komunitas dangdut. Maklum dari daerah itulah penyanyi dangdut lahir dan berkarier. 


Dalam lakon "Princess Pantura", sajian dangdut jadi lebih menarik karena ada dimensi kampanye politik, yang layak  dikomedikan.

Kisahnya tentang persaingan penyanyi dangdut, Sruti dan Silir. Mereka ingin terkenal dengan mengikuti lomba nyanyi di stasiun televisi. Ajang pencarian talenta penyanyi dangdut itu ‘ditunggangi’ dua orang yang bersaing dalam kampanye politik, yakni Cak Lontong dan Tarzan.

Terjadilah konflik antar-pengikutnya, yang dibumbui kisah cinta sederhana mengundang tawa. Lantas siapakah yang menguasai kelucuan pentas ini?


Hampir semua tokoh di "Princess Pantura" bisa  memancing tawa. Selain Cah Lontong, Inayah, dan Marwoto, ada pula Akbar, dan Arie Kriting. Tak lupa juga: Trio GAM [Guyonan Ala Mataraman]. Wisben Antoro, Joned, dan Dibyo Primus sama lucunya dengan aktor Mucle ‘Bang Haji Irama’.

"Princess Pantura" kian fresh dan berwarna dengan tampilnya bintang tamu JKT 48. Mereka seolah jadi pemancing penonton usia remaja.

Penulis cerita dan sutradara, Agus Noor berhasil menggodok produksi pentas ini bersama Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto. Kolaborasi mereka tetap jadi jaminan mutu untuk lakon kontemporer, yang merakyat, namun cerdas dan berisi dengan kritikan.

Rencananya, tim Indonesia Kita akan menyuguhkan  lakon ‘ibadah budaya’, lainnya pada 20-21 Juli & 5-6 Oktober mendatang. Kita tunggu saja. [][teks @yogirudiat | foto @andiskaraf]