10 Hal Sebelum Menua dan Pensiun
Social

10 Hal Sebelum Menua dan Pensiun

by Sherra
Fri, 01-Jan-2016

Pegawai pasti akan menua dan mengalami masa pensiun. Sudah siapkah? Coba simak beberapa hal berikut mengenai masa pensiun saat tua nanti.

1. Walaupun di Inggris jumlah orang berusia 65 tahun meningkat 80% dalam enam puluh tahun terakhir, ternyata usia pensiun mengalami penurunan. Statistik OECD [2011] menunjukkan rata-rata usia pensiun yang efektif adalah 63,5 tahun, sebelumnya 68,6 tahun.

2. Pensiun artinya berbeda bagi tiap orang. Beberapa orang menganggapnya sebagai kesempatan untuk lepas dari kewajiban pekerjaan dan mengejar passion. Lainnya menganggap pensiun sebagai transisi sebagai hilangnya status sosial, hubungan sosial, dan finansial.

3. Pada awalnya, yang orang rasakan pada masa tua tergantung dengan bagaimana cara mengalaminya. Pensiun atau kehilangan pekerjaan secara tak terduga adalah hal yang paling berkaitan dengan peningkatan depresi, kecuali mereka yang pensiun dengan sukarela, atau mereka yang menghabiskan waktunya dengan bekerja part-time akan mengurangi stres.

4. Kondisi individu seperti finansial, kesehatan, atau hubungan sosial dampaknya ya lebih besar ketimbang masa pensiun itu sendiri. Kepribadian juga berperan penting. Orang yang berkepribadian ekstrovert dengan harga diri tinggi cenderung lebih bernilai. Mereka yang sudah mengikat dan menghargai dirinya sendiri pada pekerjaannya cenderung harus berusaha keras untuk mengatasi masa pensiun. Orang yang memiliki daya saing dan ketegasan menjadi faktor kesuksesan terdahulu yang dapat menghalangi seseorang untuk pensiun.

5. Memiliki pasangan, berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan mempunyai banyak teman bisa menjadi pendukung kuat  kesejahteraan pada masa pensiun [Hong & Duff, 1997]. Namun faktor-faktor ini nggak langsung didapatkan dan harus direncanakan sebelum masa pensiun datang.

6. Meskipun pensiun dipandang sebagai pengalaman pribadi, itu juga berdampak yang sangat besar pada hubungan pernikahan. Misalnya, pada tahap awal pensiun, mungkin ada semacam masa bulan madu ketika pasangan menilai pernikahannya lebih menyenangkan. Itu nggak berlangsung lama. Penelitian oleh Elizabeth Mokyr Horner di University of California menunjukkan bahwa ketergesahan untuk meraih langsung kesejahteraan dan kepuasan hidup setelah pensiun, diikuti penurunan drastis dalam kebahagiaan beberapa tahun kemudian.

7. Orang yang bekerja bisa lebih mudah untuk mengabaikan perbedaan suami-istri. Namun ketika pasangan menghabiskan waktu bersama di rumah, perbedaan tersebut akan lebih sulit untuk diabaikan. Wanita yang umumnya memiliki dukungan sosial dan keluarga yang lebih baik cenderung bisa mengatasi masa pensiun. Sedangkan pria kurang terampil bersosial dan kalau mereka kurang berminat dengan kehidupan luar, mereka menjadi terlalu bergantung pada pasangan mereka.

8. Tergantung pada sudut pandang Anda, pensiun bisa menjadi tembok atau pintu, tetapi nggak ada yang bisa menyangkal bahwa hal itu terjadi saat eksistensi dalam masa penurunan. Orang-orang ditugaskan untuk membentuk eksistensi dan menemukan kembali tujuannya, yang berarti saat tingkat energi dan motivasi jauh lebih rendah daripada dulu. Pensiun juga adalah waktu ketika kesehatan mulai menurun. Bahkan pensiun meningkatkan 60% kemungkinan setidaknya ada satu kondisi fisik yang terdiagnosa dan itu mengharuskannya untuk berobat [Institute of Economic Affairs, 2013].

9. Pensiun meningkatkan 40% kemungkinan menderita depresi secara klinis. Depresi yang nggak diobati menjadi penyebab utama bunuh diri  kemudian hari, baik untuk pria dan wanita. Pria berusia 40-44 tahun memiliki tingkat bunuh diri tertinggi. Namun pria berusia '80-an memiliki tingkat bunuh diri yang lebih rendah.

10. Perempuan masih hidup lebih lama daripada pria di semua negara [Barford et al. 2006]. Jadi, perempuan lebih mungkin untuk menjadi janda. Terlepas dari gender, rasa kehilangan itu menyakitkan. Laki-laki nampaknya sangat rentan setelah kehilangan pasangan. Dalam sebuah studi oleh Guohua Li di School of Hygiene & Public Health di Johns Hopkins University, duda memiliki risiko bunuh diri lima kali lebih besar daripada pria menikah, sedangkan risiko relatif bunuh diri bagi para janda itu kira-kira sama seperti wanita yang sudah menikah [Li, 1995]. [][teks @saesherra/ huffingtonpost.co.uk | foto corbisimages]