Aku atau Saya?
Social

Aku atau Saya?

by Dewi
Thu, 15-Sep-2016

Sekarang ini banyak sekali terdengar orang menggunakan kata aku sebagai kata ganti orang pertama. Segala umur, segala lapisan, di segala kesempatan.

Aku mau itu, Bu,” kata seorang anak pada ibunya yang dijawab oleh sang ibu dengan “Iya, nanti aku ambilin ya.”

Pertama kali saya mendengar seorang anak membahasakan dirinya dengan aku kepada orang yang lebih tua, saya terkejut. Karena berdasarkan pengetahuan saya, kata aku tidak dipakai untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Kemudian pada akhirnya saya juga mendengar orang-orang yang lebih tua membahasakan diri mereka dengan aku kepada anak-anak. Pun di lingkungan yang lebih formal. Di sekolah, di kantor, di organisasi, semua ber-aku-ria.

Mungkin untuk orang yang berasal dari daerah tertentu, penggunaan tersebut adalah hal yang biasa dalam percakapan sehari-hari. Namun akhirnya orang yang berasal dari daerah lain pun ikut menggunakan kata aku hingga akhirnya itu bersifat “nasional”. Sementara saya tetap merasa kurang pas. Sampai akhirnya sebuah artikel di princess-school.com membuat saya merasa lega, karena ternyata prinsip saya ada benarnya juga hehe..

Saya dan artikel tersebut nggak bilang bahwa memakai kata aku itu salah. Tapi sebaiknya kita sama-sama tau penggunaannya yang tepat ya. Untuk penjelasannya saya kutip dari artikel tadi: "Penggunaan kata aku yang lebih tepat adalah untuk menunjukkan keakraban dan hanya dipakai terbatas pada sesama kawan sebaya, bukan digunakan terhadap lawan bicara yang jauh lebih tua, seperti guru, orang asing maupun orangtua."

Disarankan untuk penggunaan kata aku [yang lawan katanya adalah engkau atau kamu] hanya terbatas pemakaiannya antara teman sebaya, di dalam puisi, lagu, dan untuk kalangan yang dirasa sangat akrab saja. Sedangkan untuk orang yang belum/baru dikenal, kalangan yang lebih tua, guru maupun kepada kedua orangtua kita, untuk lebih sopannya gunakanlah saya. Baik saat berbicara, menulis surat maupun ngobrol.

Saya pribadi setuju dengan penjelasan di atas. Karena membayangkan sebuah pertemuan formal dengan orang-orang yang ber-aku-ria di dalamnya, kok rasanya seperti mengurangi skala penting pertemuan tersebut ya? Gimana menurut Anda? [][teks @tantedow | ilustrasi riansaputra]