Menghadapi Penggosip
Social

Menghadapi Penggosip

by Dewi
Wed, 25-Jan-2017

Commuters, tanpa kita sadari, sebagian besar dari kita pasti seneng dengerin cerita tentang orang lain. Buat pendengarnya, saking seru menyimak bisa sampe lupa untuk mengecek kebenaran cerita tersebut. Menelannya mentah-mentah. Bahkan nggak jarang menceritakannya lagi ke orang lain. Buat yang bercerita, melihat pendengarnya antusias, jadi semangat menambah sedikit bumbu di sana sini, yang akhirnya menimbulkan kesan bahwa itulah kebenarannya.

Kalau kamu sedang berada di dalam sebuah ruangan bersama beberapa teman, lalu sebagian dari mereka mulai menceritakan tentang seseorang yang nggak ada di situ, dan ceritanya mulai cenderung menjelek-jelekkan, apa langkah yang tepat untuk kamu lakukan? Bukan dengan mati-matian membela orang yang digosipin, bikin kamu capek sendiri itu mah. Sebaiknya alihkan pembicaraan itu ke topik lain secara halus. Misalnya “Masa’ sih? Nggak tau juga deng.. Eh semalam ada yang nonton film blablabla gak, endingnya gimana sih?” Percaya deh, teman lain yang nggak terlalu senang dengerin gosip mereka pun akan merasa bersyukur dengan upaya kamu itu.

Nah, gimana kalo kamu yang digosipin? Langkah awal yang harus kamu lakukan adalah memastikan siapa pelakunya. Jangan langsung percaya dan terbakar emosi dengan informasi yang kamu dapat. Setelah benar-benar tau penggosipnya, siapkan mental dan kesabaran, ajak orang itu bicara baik-baik. Katakan bahwa apa yang dia lakukan sangat mengganggu kamu. Jika dia menyadari kesalahannya dan minta maaf, maka maafkanlah. Namun kejadian ini menjadi warning buat kamu untuk nggak mempercayainya 100% mengenai hal-hal yang sensitif. Gimana kalo dia nggak menyadari kesalahannya dan malah semakin “garang” terhadapmu? Menurut saya sih, kamu nggak perlu melanjutkan pertemanan dengannya. Penggosip adalah orang-orang yang merasa iri, pencari perhatian, atau merasa kurang puas dengan dirinya sendiri. Buang-buang energi kalo kamu selalu berusaha mengkonfrontasinya.

Ingat, jika kita ikut serta dalam kondisi yang negatif, itu bisa melelahkan dan merugikan kesehatan kita. Maka, carilah lingkungan atau pertemanan yang lebih banyak membawa sifat dan sikap positif, itu lebih baik untuk kesehatan. Baik fisik maupun mental. [][teks @tantedow/berbagai sumber | foto caseykoester.wordpress.com & devorbacutine.eu]