Geliat Hari Pertama JJF dari Kacamata Calo
Social

Geliat Hari Pertama JJF dari Kacamata Calo

by Pandu
Mon, 06-Mar-2017

"Perhatian dilarang beli tiket di calo. Kami tidak menjamin keasliannya."

Pengumuman template itu berulang-ulang keluar dari pengeras suara yang radiusnya paling cuma 8 meter dekat pintu gate masuk. Sedangkan calo sudah mencegat dari areal jalan raya. Jaraknya sekitar 100 m.

Jelas, peringatan itu tidak terdengar. Ketutup riuh suara "daily pass, daily pass, korting, korting". Ketika calon penonton turun dari kendaraan, gerombolan calo langsung mengepungnya. Mereka  berusaha menjualkan tiket Java Jazz.

Khusus untuk kami, omongannya beda "Ada lebih boss?"


Kami menemui Pak Heri [51], dia calo yang biasa mangkal tiap ada festival besar. "Tahun ini JJF sepi [penjualannya-red], beda dari yang kemarin-kemarin," katanya.

Menuru dia. penyebab utamanya, tidak ada special show dan harga tiket yang lebih mahal. Untuk satu tiket harian dia jual 300k [300 ribu rupiah]. Setengah harga dari yang dijual Java Production. Sayang, Pak Heru enggan membeberkan darimana ia dapat tiket murah itu. "Ini saya [beli] pribadi," ucapnya.

Dia biasa berjualan secara kelompok. Ada empat orang yang berkoordinasi dengannya. Hasil penjualan pun dibagi secara kolektif. Dari satu tiket, mereka dapat keuntungan sekitar 100k. Jadi kalau yang kejual cuma satu, per orang dapat 25K. Pada hari pertama, jam 5 sore dia baru menjual tiga tiket katanya.