Mengapa Orang Asia Kurang Kreatif?
Social

Mengapa Orang Asia Kurang Kreatif?

by Hagi
Tue, 02-May-2017

Dalam buku Why Asians Are Less Creative Than Westerners [2001], Prof. Ng Aik Kwang, bicara tentang karakteristik bangsa Asia. Profesor dari University of Queensland ini mengemukakan beberapa hal tentang bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang.

1. Bagi kebanyakan orang Asia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki [rumah, mobil, uang dan harta lain]. Passion [rasa cinta thdp sesuatu] kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya. Profesi semacam itu, biasa dianggap lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tak heran banyak yang suka novel, sinetron, atau film bertema si miskin jadi kaya mendadak karena menemukan harta karun, atau jadi istri pangeran. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sbg sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk Perguruan Tinggi, semua berbasis hafalan. Mahasiswa harus terus hafal rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya. Bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" - tau sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun.

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah dan takut kalah. Akibatnya sifat eksploratif untuk memenuhi rasa penasaran dan keberanian mengambil risiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya. Tetapi selesai sesi berakhir peserta mengerumuni narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Lalu, apakah kondisi ini permanen, sehingga bangsa Asia tidak bisa bangkit dari kodratinya? Yuk kita jawab pertanyaan sekaligus tantangan ini.. [][teks @evaevilia666/berbagai sumber | foto freepik.com/katemangostar]