Antara Juventus atau Real Madrid, Siapakah Juaranya?
Sport

Antara Juventus atau Real Madrid, Siapakah Juaranya?

by Pandu
Wed, 24-May-2017

Final Liga Champions mempertemukan Juventus dan Real Madrid sebagai laga pamungkas di musim 2016/2017. Bentrokan keduanya di Millenium Stadium 4 Juni nanti akan tercatat sejarah sebagai sebuah drama, antara Nyonya Tua Italia dan Sang Raja Spanyol.

Melihat dari statistik enam laga Juventus dan Real Madrid di Liga Champion, klub asal Kota Turin itu lebih dominan ketimbang lawannya. Sejak 2009 hingga semifinal 2015, Juventus selalu unggul dalam hal agregat. Meskipun tipis jaraknya. Tapi ada jurang yang besar antara kemenangan dan kekalahan.


Apalagi Juventus menyimpan hasrat untuk membawa pulang Si Kuping Panjang. Terakhir kali Nyonya Tua menjuarai UCL lewat adu penalti tahun 1995/1996. Lawan mereka dua dekade lalu adalah Ajax. Setelah itu mereka hanya menjadi juara kedua meski melaju ke partai final. Kalah oleh rival se-Italia, AC Milan [2003] dan dibantai 1-3 Barcelona [2015].

Banyak pundit --ahli sepakbola-- yang menyebut jika ini adalah waktu yang pas untuk Juventus menjuarai UCL. Demi membuktikan bahwa sepakbola Italia tidaklah sekarat seperti yang dikritik orang banyak. Bahwa, Nyonya Tua bisa juga menjuarai tingkat Eropa. Tidak cuma jago kandang.

Kalau mau melihat secara personalitas, ini juga waktu yang tepat bagi legenda hidup Juventus, Gianluiggi Buffon untuk membawa tim yang ia kapteni jadi juara. Tidak ada yang menyangkal bahwa ia salah satu kiper terbaik dunia saat ini. Segala hormat serta puja-puji telah ia dapat usai mengangkat trofi Piala Dunia. Hanya kurang satu piala untuk melengkapi etalase trofinya, Piala Liga Champions.

Bila Si Kuping Panjang telah Buffon dapat, tak ada yang bakal menyangkal. Bahwa ia lebih superior daripada Dino Zoff di bawah mistar gawang Juventus. Dan bukan tidak mungkin, namanya bisa merusak daftar penerima Ballon D’Or yang terus didominasi C. Ronaldo dan Leo Messi sewindu terakhir.


Di sisi lain, Real Madrid pun menyimpan ambisi untuk bisa menjuarai Liga Champions berturut-turut. Sebab tidak pernah ada yang menyabetnya sekalipun berhasil melaju ke final selama dua tahun. Real Madrid telah jadi tim teratas yang mengoleksi gelar Eropa, sebanyak 11 kali.

Skuat Zinedine Zidane telah keluar sebagai kampiun Liga Spanyol, dengan menyalip Barcelona di satu laga terakhir secara dramatis. Mengawinkan gelar liga dan UCL adalah raihan yang fantastis, jika mereka bisa mencapainya.

Bukan hal yang tak mungkin Real Madrid merobek mitos tak ada juara berturut-turut UCL. Sebab sejak musim 1997/1998, bila Real Madrid masuk partai final, Los Galacticos selalu menyudahinya sebagai juara. Dan korban pertama mereka musim itu adalah Juventus.

Dari segi statistik serangan, Real Madrid lebih dominan ketimbang Juventus di UCL musim ini. Ini statistik serangan Real Madrid yang dilansir UEFA.


Tapi dari segi bertahan, Juventus lebih unggul tanpa pernah kalah sekalipun hingga partai final. Strategi pragmatis rombakan Cattenacio berhasil meredam serangan yang datang. Bila tembok kokoh trio BBC Juventus bisa dibongkar, masih ada Supergigi yang mengawal mistar. Dari 105 tembakan sepanjang UCL musim ini, hanya 3 yang berhasil menembus gawangnya. 11 pertandingan yang ia mainkan, 8 di antaranya clean sheet. Trio BBC Madrid pasti kesulitan menembus laga final.

Pertandingan final nanti pasti akan alot. Bukan cuma di dalam lapangan, tapi juga di sisinya antara Allegri versus Zidane. Sebab keduanya diberkati dengan kedalaman skuat yang bisa diaplikasikan ke beragam formasi alternatif. Musim ini keduanya bisa tiba-tiba mengubah taktik dari 3-4-3 ke 4-3-3, 3-5-2, 4-5-1 atau yang konvensional 4-4-2. Tergantung lawan yang akan dihadapi oleh keduanya. Salah langkah sedikit semua bisa runyam.

Pemain kunci di Juventus untuk laga final adalah Buffon. Dari belakang ia memompa semangat ke depan sekaligus menjaga wilayah paling krusial. Sebab gelar UCL perdana baginya adalah harga mati.

Sementara di Real Madrid untuk laga final adalah C. Ronaldo. Di kakinya, apa yang tak mungkin bisa saja terwujud. Selama aliran bola masih tertuju padanya. Gelar UCL ke-12 bukanlah hal yang tak mungkin. [][teks @haabib_onta | foto uefa.com, realmadrid.com]