}
Memotret Petir
Tips

Memotret Petir

by Pohan
Fri, 08-Jan-2016

Hujan menyelimuti Jabodetabek selama satu bulan terakhir. Bagi kamu yang ingin memotret petir inilah saat yang tepat. Kemunculan petir sendiri tak terduga hingga membutuhkan teknik yang cukup sulit. Selain harus menguasai teknik memotret, bagian terpenting saat memotret petir adalah kesabaran. Juga keburuntungan.

Seperti kita ketahui samberan cahaya petir memiliki aliran listrik yang cukup kuat. Kamu perlu memerhatikan bagian langit mana yang mempunyai frekuensi petir. Gunakan teknik slow speed untuk menangkap cahaya petir agar lebih sempurna. Setelan diafragma bisa menggunakan bukaan lebar/kecil tergantung foto yang diinginkan.

Lensa yang cocok untuk memotret petir adalah lensa wide [lebar] agar dapat menangkap sudut yang lebih luas. Dengan lensa lebar, kamu bisa mudah mengatur komposisi foto misalkan dengan memasukkan rumah, gedung, pepohonan ke dalam frame untuk mendapatkan foto yang bagus.

Di luar negeri, para pemburu petir disebut Lighting Hunter. Fotografer yang ingin mencoba memotret petir hati-hati dalam memilih lokasi pemotretan dan utamakan keselamatan. Apa saja perlengkapan memotret petir?

> Tripod, untuk membuat kamera tetap stabil

> Kamera yang memiliki fitur manual

> Cable release atau remote, penting untuk mengunci shutter selama beberapa detik dalam mode bulb jika diperlukan

Prinsip memotret cahaya petir biarkan petir menjadi flash atau sumber cahaya bagi foto kamu. Ketika kamu melepaskan shutter dan kamu menguncinya dalam waktu tertentu, shutter terbuka dan petir menyambar. Maka petir akan merekam jalannya cahaya dalam sensor kamera kamu sampai kamu menutup shutter kamera tersebut.

Tips memotret petir:
> Gunakan tripod dan cable release jika ada, kalau tidak ada gunakan timer.

> Gunakanlah manual focus, dan focusing di tempat yang kira-kira petir menyambar. Akan lebih bagus lagi kalau kamu menerapkan teknik hyperfocal untuk mendapatkan fokus yang tajam sampai ke titik tak terhingga [infinity].

> Set ISO rendah, karena ketika kamu membuka shutter selama 20 detik atau lebih petir ini sudah cukup terang untuk memberikan exposure di sensor.

> Gunakan aperture kecil jika ingin mendapatkan foto yang tajam dari ujung ke ujung.

> Gunakan mode RAW sehingga bisa di adjust kemudian untuk mendapatkan keseimbangan warna yang lebih bagus.

> Gunakan filter ND atau GND jika awannya masih terlalu terang.

> Bisa dicoba menggunakan AF mode di setting AI-servo/AF-C.

> Continous shooting mode, biasa disebut nge-brust yang sekali jepret bisa dapet 5 frame atau lebih tergantung fitur kamera kamu.

> Sabar untuk menunggu petir datang

Setelah kamu arahkan kamera ke area tempat kira-kira petir akan muncul, tembakkan shutter dengan cable release atau remote, kunci dan tunggu beberapa detik. Coba lagi foto petir berikutnya, tembak, kunci, tunggu lagi, dan ulangi lagi sampai kamu mendapatkan pola aliran petir yang paling bagus.

Pastikan hasil foto-foto petir setelah menerapkan teknik memotret petir tidak under exposure atau over exposure. Jika fotonya terlalu gelap, turunkan F-stop number atau naikkan ISO, sebaliknya bila fotonya terlalu terang, naikkan F-stop number atau turunkan ISO. Terapkan teknik segitiga exposure dan juga aturan komposisi.

Ketika kamu berada dalam lokasi dan waktu yang banyak terdapat petir menyambar, ambil foto sebanyak-banyaknya. Kamu tidak akan pernah tahu kapan petir yang sempurna akan menyambar, sehingga setelah shutter kameramu selesai menangkap gambar dalam satu waku exposure, tembakkan shutter lagi dan lagi. Jangan habiskan waktu untuk mereview hasilnya atau kamu akan ketinggalan petir yang bagus. [][teks @pohanpow/tipsfotografi.net | foto berbagai sumber]