}
Yuk Nulis Buku
Tips

Yuk Nulis Buku

by Yogira
Tue, 19-Apr-2016

Setiap hari, seberapa sering kamu menulis status di Facebook? Seberapa banyak kamu berkicau di Twitter? Kalkulasikan dalam setahun, sudah berapa kata yang tersiarkan? Pasti kalau kata-kata itu dikumpulkan, sama jumlahnnya dengan banyaknya kata dalam satu buku.

Sebenarnya kamu yang senang menulis di media sosial, punya potensi untuk menulis buku, minimal satu buku dalam setahun, atau satu buku untuk seumur hidupmu.

Namun, sayang, banyak yang senang curhat dan menulis di facebook atau twitter, tapi selalu ‘gagal’ atau enggan kalau menulis buku. Inilah beberapa penyebabnya.

1. Macet ide dan pikiran. Ini sih penyakit umum semua calon penulis. Solusinya gampang. Seringlah membaca buku teori menulis dan banyak membaca. Itu obat mujarab pemancing ide.

2. Sibuk kerja. Ini juga alasan klasik. Solusinya, mendisplinkan diri dengan menyediakan waktu setiap hari 1-2 jam untuk membuat outline tulisan/rancangan daftar isi.

  • Setelah membuat outline tulisan untuk buku beres, barulah membaca lagi sumber-sumber pendukung tulisan sambil menulis, setidaknya satu paragraf per hari.
  • Kalau kamu sudah merasa terbiasa menulis satu paragraf per hari, tambah aktiitas menulisnya 1 halaman format word per hari, begitulah seterusnya.

3. Bingung yang akan ditulis. Solusinya, tentukan dulu tema, ide tulisan, dan jenis tulisan yang akan dibuat [fiksi atau non fiksi]. Setelah itu, just go writing!

4. Tidak pe-de. Ini juga penyakit umum calon penulis. Solusinya, menulisnya dulu dengan hati, jangan terganggu dulu dengan logika. Tidak percaya diri menulis biasanya adanya ‘konflik’ antara hati/perasaan yang ingin dituangkan dengan logika pikiran pertimbangan takut salah.

Padahal belajar menulis yang efektif itu adalah tulislah semua yang ada dalam hati dan pikiran jangan takut salah.

Barulah setelah itu, kamu edit sendiri tulisan itu supaya lebih pas dan enak dibaca. Ingat, tiada karya tulis yang langsung layak jadi buku, pasti ada proses editing berkali-kali.

5. Tidak tahu cara menerbitkan buku. Solusinya, kamu bisa browsing di internet tentang  cara menerbitkan buku, secara self publishing atau mengirimkan karya kepada penerbit.

Dari situ kamu bisa mempertimbangkan plus-minusnya. Ada kelebihan dan kekurangan pada self publishing maupun pada penerbitan orang lain/perusahaan lain.  

Self publishing, kelebihannya kamu bisa segera menerbitkan buku sesegera mungkin. Idealisme kamu lebih terjaga. Kalau bukunya laku, keuntungannya lebih besar.

Tapi kekuarangannya, kamu harus punya modal sendiri dan harus siap rugi karena kemungkinan besar minim  dukungan distribusi dan promosi.

Mengirim naskah ke penerbit orang lain/perusahan penerbit, kelebihannya: kamu menghemat biaya pribadi, dapat royalti/honorarium atas karyamu, itu pun kalau memang layak publikasi.Kelebihan lainnya, karya kamu biasanya dibantu untuk promosi dan distribusinya ke  jaringan toko buku lebih luas lagi.

Tapi ada kekuarangannya juga. Cara mengirim naskah ke penerbit biasanya harus sabar menunggu kepastian kelayakan terbit, juga harus rela direvisi  berkali-kali.

Nah, sampai tulisan ini habis dibaca, kamu ada niat menulis buku? Kalau belum, bacalah dulu penulis-penulis yang  kaya raya karena hasil penjualan bukunya.
[][teks @firza/berbagai sumber foto reddit.com, nextcenturypublishing.com]