Baluran: Area Petualangan Ala Afrika
Travel

Baluran: Area Petualangan Ala Afrika

by Pandu
Wed, 13-Jan-2016

Kalau di paling Barat pulau Jawa, ada Taman Nasional Ujung Kulon. Di paling Timur, sejak tahun 1980, ada kawasan Baluran yang resmi jadi Taman Nasional.

Sejak tahun 2010, nama Baluran mulai jadi bahan perbincangan di antara petualang lokal. Maklum, di Taman Nasional ada beragam kehidupan liar yang bisa dijajal. Lokasi ini nggak kalah dengan beberapa negara di Afrika yang memiliki objek wisata petualangan ala safari alias melihat tingkah polah satwa yang hidup bebas di alam terbuka.

Dengan luas taman mencapai 250Km2, Baluran meliputi rimba, hutan mangrove, hutan gunung, pantai, dan savanna. Di antara itu yang paling luas adalah savanna --yang mencapai 40% dari keseluruhan lahan. Di zona itu hidup 26 jenis mamalia serta 155 jenis burung yang berlarian atau terbang bebas.

Macan tutul ada di daftar teratas piramida makanan, sebagai predator. Lalu ajag [sejenis anjing hutan] dan kucing bakau yang juga predator. Ketiga hewan itu punya pilihan mangsa yang lumayan beragam mulai dari banteng, rusa, kerbau, kancil, bahkan ayam hutan merah.

Kehidupan liar para satwa bisa dilihat secara langsung dari 13 pos pengamatan yang tersebar di seluruh wilayah. Tapi untuk berkunjung, petualang disarankan datang antara Maret-Agustus karena itu bulan terbaik menurut para penjaga. Menurut mereka, selama bulan tersebut, cuaca relatif bersahabat. Beberapa hewan juga mulai memasuki musim kawin. Melalui menara, para pengunjung pun bisa melihat 'cara melamar hewan'. Biasanya hewan jantan bertarung sengit untuk membuktikan yang terkuat.

Jika ingin menginap, ada dua pilihan yang tersedia, yakni: menyewa wisma tamu di Pos Bekol dan Semiang atau berkemah di Pos Batangan. Di dekat wisma tamu ada kawanan rusa, kijang, dan banteng. Sementara di bumi perkemahan, berkeliaran habitat burung merak.

Di Taman Nasional Baluran, manusia sekadar tamu. Sedangkan satwa dan flora, bapak dan ibu tuan rumah. Jadi kalau bertualang ke Baluran bersikaplah sopan selayaknya tamu. Kalau nggak mau ‘diusir’ yang punya rumah. [][teks @HaabibONta/berbagai sumber | foto wikipedia]