Di Mahameru, Kami Temukan Kebebasan
Travel

Di Mahameru, Kami Temukan Kebebasan

by Pandu
Sat, 28-May-2016

il segreto della felicita è la liberta..

Sepenggal pepatah lama Italia yang berarti “Rahasia dari hidup bahagia adalah kebebasan”. Sepenggal sisanya berada di ujung cerita ini. 


Di tengah pendakian, ketika badan kami sudah letih sekali dan mental mulai goyah, timbul pertanyaan “Ngapain sih gue di sini? Buat apa?”. Maka, dalam hati kami menjawabnya yakin “Di ujung jalan ini, kami mencari kebebasan!”

Jawaban itu yang menghalangi kami pulang sebelum summit. Di Pos Kalimati kami berdiri, menghadap Puncak Mahameru yang ada depan mata. Hanya berjarak 1,5 km, kurang sedikit lagi, pikir kami.

Ternyata dekat di mata, tapi jauh di kaki. Perlu waktu 5 jam 40 menit untuk menyelesaikan summit attack. Kami mulai pukul 12.12 dari Kalimati dan baru tiba di puncak itu pukul 05.50. Hasil waktu itu pun termasuk cepat. Mau gimana lagi. Jalan terus capek. Tapi kalau berhenti, menggigil kedinginan setelah batas vegetasi. Jadi kami cuma berhenti 2 menit untuk istirahat jika capek.

 

Pendakian ke Mahameru telah dimulai sejak awal abad ke-11 oleh Raja Kediri, Prabu Kameswara, dalam misi pencarian air suci. Ditemukanlah dua sumber air suci, Ranu Kumbolo dan Sumber Mani.

Orang Jawa Kuno men-sakralkan Mahameru [3.676 m dpl]  sebagai puncak para Dewa-Dewi atau penghubung antara bumi dan kayangan. Pada kitab abad ke-15, Tantu Pagelaran, gunung ini bahkan disebut sebagai rumah dari Sang Hyang Siwa.  

Sebab itu kegiatan ini tidak kami sebut sebagai pendakian. Kami lebih suka menyebutnya berziarah [pilgrimage]. Kami cuma menelusuri ulang jalan yang telah dilalui pendahulu dengan harapan bisa pulang selamat dan bawa ilham baru. Kami juga pergi dengan maksud mencari kebebasan dan belajar etika hidup bersama. Pasalnya, ibukota telah merenggut dua hal itu.


Kami ziarah mulai 3 Mei dari Desa Ranu Pani, lalu berkemah saat maghrib di Ranu Kumbolo. 4 Mei, kami melanjutkan lagi ke pos terakhir, Kalimati. Lantas, 5 Mei kami berhasil sampai di Puncak Mahameru. Cuma kebacanya saja yang mudah, realitanya tidak.

Percayalah. Sebelum pendakian kami melakukan olah fisik dan merencanakan dengan matang. Tidak asal naik, seperti yang dilakukan tokoh fiktif Genta dan kawan-kawannya di 5cm.



Sebagai Muslim, kami juga merasa momen itu spesial karena bisa merayakan Isra Mi’raj di Mahameru. Melaksanakan subuh berjama’ah di ketinggian 3.676 m dpl adalah pengalaman berharga seumur hidup. Haru biru menyelimuti perasaan kami. Gelak tawa bahagia bercampur derai tangis.


Terlebih lagi, ketika melihat Mahameru mulai mengepulkan wedus gembel, di situ kami sangat  menyadari bahwa manusia amatlah kecil, seperti debu panas yang kemudian hilang ditiup angin. Dari hidup yang sementara ini, kita semua mencari kebahagiaan lewat berbagai medium. Di Puncak Mahameru, kami menemukan kebebasan. Kami menerima kebahagiaan.

“il segreto della felicita è la liberta. il segreto della liberta è il coraggio”. [Rahasia kebahagiaan adalah kebebasan. Rahasia dari kebebasan adalah nyali].

[][teks @HaabibOnta | foto @HaabibOnta, @aldyansyah.ir, @kay.alfi]