Berhutang Pada Puncak Gunung Rinjani
Travel

Berhutang Pada Puncak Gunung Rinjani

by Pandu
Thu, 26-Jan-2017

Bohong, jika seorang pendaki nggak memasukkan Rinjani dalam list-nya. Sudah pasti, ia dengar cerita dari pendaki lain tentang indah dan kerasnya jalur selama perjalanan. Apalagi Rinjani termasuk 7 puncak tertinggi di Nusantara. Gairah untuk berdiri di puncak makinlah besar!

Kami lalu berangkat ke Rinjani pada penghujung 2016, memanfaatkan libur akhir tahun dan cuti kantor. Mengambil jalur darat sejauh 1.400 km selama tiga hari. Kami set waktu dan perbekalan untuk tiga hari dua malam. Jalur Sembalun dipilih untuk naik-turun karena Ranger tidak membolehkan turun lewat Senaru atau Torean.

Rinjani via Sembalun punya tiga pos dan dua shelter tambahan. Semuanya ada sebelum “Tujuh Bukit Penyesalan”. Biasanya sih, malam pertama buka tenda di pos tiga. Esoknya baru 'ngebantai' Tujuh Bukit. Lalu bermalam lagi di Plawangan. Pagi buta baru melancarkan summit attack ke 3.726 Mdpl. Tapi itu kebiasaan orang lain.


Kami sih langsung membabat habis basecamp sampai ke Plawangan, berharap malamnya bisa langsung Summit Attack. Tapi Dewi Anjani berkata lain. Badai dan angin kencang bertiup sampai hampir mematahkan frame tenda. Niat ke puncak kami urungkan, lalu tidur nyenyak, menyiapkan lagi kondisi fisik yang habis diperas saat menanjaki Tujuh Bukit Penyesalan.

Siang hari kedua, kami habiskan untuk mengepul air, masak dan tentu saja berfoto. Ada gelisah besar untuk turun ke Segara Anak. Tapi pasti PR banget nanjak balik ke Plawangan. Bisa jatuh lagi kondisi fisik. Jadi, kami urungkan dulu saja. Prioritas utama adalah Top Summit Gunung Rinjani.


Malam tiba dan kami lekas mengisi perut, tidur, dan summit attack di pagi buta. Ada satu yang kami lupa, sampah makanan yang terserak di sisi tenda tidak dibereskan. Betul saja, kami terbangun oleh alarm yang keluar bukan dari handphone. Tapi akibat suara babi jantan yang keras sekali, yang mengais sampah di seputar tenda. Sial!

Setelah hampir sejam kami dirundung gelisah, pergi juga akhirnya itu babi. Kami bisa melanjutkan niat Summit Attack. Tepat pukul 02.00 kami berangkat, jika tepat jam 07.00 kami sudah berada di atas.



Sekali lagi rencana manusia belum tentu diamini oleh kehendak alam. Jam 05.00 badai kabut menghadang, langkah kami harus terhenti. Jarak pandang terlalu pendek, angin kencang bisa saja meniup kami sampai dasar lembah. Untung tidak terjadi.

Momen sunrise terpaksa kami lewati. Langkah baru kami mulai lagi setelah sinar matahari menipiskan kabut. Legam pasir Rinjani jadi terlihat jelas dan elegan. Bias dengan jingga fajar dan langit malam yang belum mau pulang. Di kejauhan, kekasihnya Mahameru, terlihat begitu gagah. Ya, kali ini giliran kekasihmu yang kami naiki!

Jam 08.00 kami tiba di puncak. Sekali lagi alam tidak berpihak, langit yang cerah dirundung kabut. Gerimis tipis turun, seperti memaksa pendaki untuk turun. Tiada lansekap yang apik untuk dijepret. Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari ditutup tirai putih.

Kami masih setia menunggu sampai pukul 09.30, tapi langit tidak berubah cerah. Ya sudah memang belum rezeki artinya. Suatu ketika pasti kami akan balik lagi. Menagih cuaca cerah yang belum kami dapat. [][teks @haabibonta | foto @haabibonta & @kay_alfi]