Dieng Plateu: Indahnya Komplek Para Dewa
Travel

Dieng Plateu: Indahnya Komplek Para Dewa

by Pandu
Fri, 14-Jul-2017

Masyarakat Jawa Kuno percaya jika Pegunungan Dieng adalah tempat tinggal para dewa. Seperti masyarakat Yunani kuno yang percaya jika Zeus bersama kerabatnya tinggal di atas Gunung Olimpus.

Sebab itu ada kompleks candi-candi yang memuja dewa-dewi Hindu yang tersebar di Dieng. Pada abad ketujuh, tidak sembarang orang bisa naik ke kawasan Dieng. Hanya para bangsawan saja yang boleh. Itu pun dalam ritual tertentu.

Candi-candi di Dieng adalah yang tertua dalam sejarah kerajaan Hindu di Jawa. Dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Bertotal sembilan candi yang masing-masing terbagi dalam tiga komplek.

Nama Dieng berasal dari dua kata bahasa Kawi, Di [tempat] dan Hyang [Dewa]. Selain percandian, ada situs-situs lain yang dijadikan tempat pemujaan. Semisal kawah, telaga, gua, dan sumur. Mereka percaya ada dewa yang bersemayam di sana.

Itu secara kultural Jawa Kuno. Tapi sekarang, Dieng lebih seperti kompleks pariwisata. Dari segi sejarah, perkebunan, museum, dan lansekap. Sejauh mata memandang, pasti dibuatnya terperangah.

Tapi secara geologi, Dieng termasuk zona waspada. Sebab aktivitas geologi yang terkandung dalamnya. Persis seperti Yellowstone di USA, yang di bawahnya tersimpan kawah kaldera yang bisa meletus. Terakhir Kawah Sileri, 2 Juli 2017, yang menyebabkan luka 4 orang. Tercatat sudah enam letusan terjadi sejak 1944 hingga sekarang.

Memasuki Agustus nanti, Dieng akan mengadakan pesta tahunan “Dieng Culture Festival”. Akan ada banyak pertunjukan seperti lampion dan kembang api. Tapi juaranya adalah Kirab Budaya dan Potong Rambut Anak Gimbal. Saran saja, bawa jaket yang tebal karena dingin sekali di sana. [][teks @haabib_onta | foto dieng.id, wikimedia.org]