}
 Periodisasi Sastra Indonesia
Trivia

Periodisasi Sastra Indonesia

by Yogira
Thu, 20-Aug-2015

Sejarah kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perkembangan bahasa dan sastra. Ini jelas termaktub dalam Sumpah Pemuda. Terutama sastra, yang menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia turut andil dalam historitas lisan dan tulisan kebangsaan Indonesia.

Namun dalam soal pembabakan sejarahnya, hingga kini periodisasi sastra Indonesia masih terus dalam perdebatan di antara para ahlinya, mengingat adanya pemahaman antara pengakuan Nusantara [pra kemerdekaan] dan Indonesia [pasca kemerdekaan].

Meski begitu, bagi penyuka sastra, perbedaan pemahaman itu anggap saja “warna budaya Indonesia”.  Mari lah kita ambil saja pemahaman periodisasi sastra yang sudah umum diterima masyarakat, seperti berikut ini.

Pada dasarnya, Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 kategori besar, yakni sastra lisan dan sastra tulisan. Sedangkan periodisasinya zamannya terbagi dalam beberapa angkatan, yakni:

Angkatan Pujangga Lama

Karya sastra zaman ini muncul sebelum abad 20, lebih berkembang di kawasan Melayu Sumatra. Syair, pantun, gurindam, dan hikayat mendominasi angkatan ini. Hikayat Abdullah, Hikayat Bayan Budiman, dan Syair dan Gurindam karya Ali Haji adalah contoh karya yang terkenal zaman Pujangga Lama.


Angkatan Sastra Melayu Lama

Karya sastranya muncul pada tahun 1870-1942, yang kebanyakan dari Sumatera. Dari sekian banyak karya, inilah di antaranya: Nyai Dasima, Hikayat Siti Maria, dan novel terjemahan Robinson Crusoe.

Angkatan Balai Pustaka

Periodisasi sastra yang ditandai berdirinya penerbit Balai Pustaka. Terbitan karya sastra muncul sejak tahun 1920. Nur Sutan Iskandar disebut sebagai raja angkatan ini. Karya pada zaman ini, antara lain: Azab dan Sengsara [Merari Siregar], Siti Noerbaya [Marah Roesli], Indonesia Tumpah Darahku [Muhammad Yamin], Hulu Balang Raja [Nur Sutan Iskandar], Sengsara Membawa Nikmat [Tulis Sutan Sati], Salah Asuhan [Abdul Muis]

Angkatan Pujangga Baru

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru, yang dikomandoi Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Karya sastra angkatan ini mencerminkan intelektualitas dan nasionalisme. Beberapa karya sastra yang terkenal angkatan ini adalah: Layar Terkembang [Sutan Takdir Alisyahbana], Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck [Hamka], Belenggu, Habis Gelap Terbitlah Terang [Armijn Pane], Nyanyi Sunyi [Amir Hamzah]

Angkatan 1945

Karya-karya angkatan ini lebih banyak mengangkat tema perjuangan, semangat kemerdekaan, realistis dan indivualistis. Chairil Anwar dianggap pendobrak sejarah sastra Indonesia melalui angkatan ini. Beberapa contoh karya angkatan ini adalah: Kerikil Tajam, Deru Campur Debu [Chairil Anwar], Tiga Menguak Takdir [Asrul Sani, Rivai Apin & Chairil Anwar], Dari Ave Maria ke Djalan lain ke Roma [Idrus], Atheis [Achdiat K. Mihardja],

Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan ini didominasi dengan karya cerita pendek dan puisi, serta ditandai juga dengan terbitnya majalah sastra Kisah, yang diasuh H.B. Jassin. Dari sekian banyak karya pada angkatan ini, berikut beberapa yang terkenal: Keluarga Gerilya, Cerita dari Blora [Pramoedya Ananta Toer], Hati yang Damai [Nh. Dini], Jalan Tak Ada Ujung [Mochtar Lubis], Priangan Si Jelita [Ramadhan KH], Etsa [Toto Sudarto Bachtiar], Balada Orang-orang Tercinta, Empat Kumpulan Sajak [WS Rendra], Robohnya Surau Kami [AA Navis].

Angkatan 1966 - 1970-an

Terbitnya majalah Horison pimpinan Mochtar Lubis jadi penanda angkatan ini. Banyak aliran sastra pada angkatan ini. Berikut adalah beberapa karya yang ternama: Tirani dan Benteng [Taufik Ismail], O, Amuk, Kapak [Sutardji Calzoum Bachri], Dukamu Abadi [Sapardi Djoko Damono], Parikesit [Goenawan Mohamad], Merahnya Merah [Iwan Simatupang], Seribu Kunang-kunang di Manhattan [Umar Kayam], Telegram [Putu Wijaya].

Angkatan 1980 - 1990-an

Selain karya sastra serius, angkatan ini kian berwarna dengan banyaknya karya pop, terutama novel dan cerpen. Karya-karya pada angkatan ini, antara lain:  Burung-Burung Manyar [Y.B. Mangunwijaya], Olenka [Budi Darma], Lupus [Hilman Hariwijaya], Arsitektur Hujan [Afrizal Malna], Sembahyang Rumputan [Ahmadun Tosi Herfanda].

Angkatan 2000-an

Munculnya angkatan ini ditandai juga dengan munculnya karya-karya bertema protes sosial pada zaman reformasi, juga kian terbuka kebebasan berekpresi para penulisnya. Angkatan ini semakin semarak dengan munculnya cyber sastra, yang penulisnya bisa mempublikasikan karyanya di internet, termasuk media sosial facebok dan twitter. Berikut adalah karya-karya di antaranya: Dongeng dari Negeri Sembako [Acep Zamzam Noor], Supernova [Dewi Lestari], Ayat-ayat Cinta [Habiburrahman El Shirazy], Laskar Pelangi [Andrea Hirata], dll. [][teks @firza/wikipedia, berbagai sumber |  foto berbagai sumber]